Selasa, 28/01/2020 19:57 WIB

Respons Negatif Pasar Bisa Muncul Jika Airlangga Rangkap Jabatan

Pengamat Sebut Airlangga Harus Buktikan Komitmen Urusi Ekonomi, Bukan Sibuk Urusi Politik

Airlangga Hartarto

Jakarta, Jurnas.com - Pengamat Ekonomi dari Universitas Palangka Raya Fitria Husnatarina menilai, sentimen negatif masyarakat dan pelaku ekonomi bisa muncul jika Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tetap ngotot mempertahankan jabatan Ketua Umum Partai Golkar.

Kata Fitria Husnatarina, sentimen negatif muncul lantaran Airlangga dianggap kehilangan independensi sebagai Menko Perekonomian. Padahal, hal tersebut menjadi kebutuhan dasar yang harus dimiliki Menko Perekonomian jika ingin memperbaiki kondisi ekonomi negara.

"Idealnya kan laga politik (sebagai ketua umum parpol Golkar) harus bisa dihindari ketika menjaga independensi sebagai Menko. Riset hampir selalu bisa membuktikan bahwa akan muncul sentimen negatif masyarakat terhadap dualisme atribut seperti ini,” kata Fitria kepada wartawan, Kamis (28/11).

Sejauh ini, Airlangga dikabarkan akan kembali mencalonkan diri sebagai Ketum Golkar. Kabar ini makin santer tersengar meski Airlangga telah didapuk sebagai Menko Perekonomian di Kabinet Indonesia Maju.

Sebagai catatan, selaku Menko Perekonomian tugas Airlangga terbilang tak mudah. Dia harus bisa menjamin keberadaan iklim investasi yang mendukung untuk masuknya calon pemodal ke Indonesia.

Airlangga juga harus mampu mengejawantahkan pesan Presiden Joko Widodo agar Indonesia mampu bertahan memghadapi ancaman resesi global mulai tahun depan.

Sebagai catatan, sepanjang 2015-2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia juga terus pada kisaran 4,88 persen hingga 5,17 persen. Angka tersebut berjarak cukup jauh bila dibandingkan dengan target pertumbuhan ekonomi dalam RPJMN 2014-2019 pada angka 6 persen hingga 7 persen.

Untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dan perkembangan industri dalam negeri, Airlangga harus fokus dan menunjukkan komitmen siap bekerja secara independen sebagai Menko Perekonomian.

“Justru karena itu butuh komitmen. Merangkap jabatan itu kan bukti bahwa tata kelola sebuah lembaga goyah. Kayak ngak ada orang saja yang kompeten. Apalagi ini kan nggak linier demand politik dan strategi kenegaraan kan bisa sangat jauh berbeda dalam kontribusi terhadap kemaslahatan bangsa dan negara,” katanya.

TAGS : Ketua Umum Partai Golkar rangkap jabatan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :