Sabtu, 07/12/2019 01:47 WIB

Menteri Edhy Minta Ekspor Mutiara Digenjot

Edhy menyebut Indonesia adalah negara pengekspor mutiara nomor lima di dunia, meskipun nilai ekspor pada 2018 masih sekitar US$47,27 juta.

Mutiara asli Indonesia (Foto: IG @Ugi_O)

Jakarta, Jurnas.com – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) berharap ekspor mutiara Indonesia dapat didongkrak. Pasalnya, komoditas tersebut merupakan salah satu sumber daya laut Indonesia yang dapat berkontribusi sebagai penghasil devisa negara.

Edhy menyebut Indonesia adalah negara pengekspor mutiara nomor lima di dunia, meskipun nilai ekspor pada 2018 masih sekitar US$47,27 juta.

Posisi Indonesia berada di bawah China (US$56,3 juta), French Polynesia/Tahiti (US$112,88 juta), Jepang (US$315,28 juta), dan Hong Kong (US$483,3 juta).

“Sekarang Hong Kong nomor satu. Padahal dari informasi yang kita dapat, kita juga mengekspor ke sana. Tapi Hong Kong bisa memposisikan diri sebagai pengekspor atau produsen mutiara terbesar untuk dunia,” kata Edhy usai kegiatan Indonesia Pearl Festival (PFI) 2019 di Jakarta pada Kamis (14/11) kemarin.

IPF yang akan diselenggarakan di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan pada 21-24 November 2019 ini mengusung tema “The Marvelous Indonesian South Sea Pearl”. Nuansa Provinsi Sulut dan Bunaken sebagai salah satu wilayah potensi budidaya mutiara akan dihadirkan di 32 booth dalam pameran kali ini.

Indonesian South Sea Pearl (ISSP) atau mutiara laut selatan Indonesia berkontribusi 50 persen dari total produksi mutiara laut selatan dunia. ISSP dipanen dari tiram jenis Pinctada maxima, baik diperoleh dari alam maupun hasil budidaya.

Sentra pengembangan tiram Pinctada maxima tersebar di beberapa wilayah di Indonesia yaitu Sumatera Barat, Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP Agus Suherman menjelaskan, ISSP memiliki keunggulan antara lain berukuran lebih besar antara 9-17 mm dengan warna kilau keperakan dan keemasan, sehingga sangat digemari di pasar luar negeri.

Selain itu, harga butiran (loose pearl) ISSP sekitar US$16-18 per gram lebih tinggi dibandingkan tiga jenis mutiara lainnya yakni Freshwater Pearl, Black Pearl, dan Akoya Pearl. 

ISSP umumnya diperdagangkan dalam bentuk loose dan jewelry (perhiasan). Perdagangan mutiara dalam bentuk loose umumnya dilakukan melalui lelang (auction) baik di pasar domestik maupun internasional, utamanya di Jepang, Hong Kong, dan Australia.

“Sebagai salah satu komoditas kelautan unggulan Indonesia yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek pengembangan usaha di masa mendatang, branding ISSP perlu diupayakan guna meningkatkan minat masyarakat terhadap mutiara. Untuk itu diperlukan promosi untuk mengomunikasikan keunikan dan keunggulannya,” tutur Agus.

Ketua Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) mengatakan, keberadaan ISSP mulai tergerus dengan banyaknya impor mutiara air tawar dari China. Di Lombok misalnya, banyak sekali beredar mutiara air tawar asal China, dengan harga yang sangat murah.

Dengan demikian, dia menilai masyarakat perlu diberikan edukasi terkait perbedaan ISSP dengan mutiara jenis ini.

Menurut Anthony, peredaran mutiara air tawar dengan harga murah dan kualitas tidak mumpuni ini dapat merusak image Indonesia sebagai penghasil mutiara. Terlebih lagi jika mutiara tersebut dibeli oleh turis yang berkunjung ke Indonesia.

“Festival Mutiara Indonesia ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa mutiara laut selatan dan mutiara air tawar itu memang sangat berbeda,” ungkap Anthony.

TAGS : Mutiara Indonesia Menteri KKP Edhy Prabowo




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :