Jum'at, 06/12/2019 00:58 WIB

Kolom

Pertunjukan Radikal Teater Koma

Tidak ada lagi yang tersisa bagi Juhro, kecuali pembuktian akan cintanya yang radikal kepada suaminya.

Yarifai Mappeaty, Penulis tinggal di Jakarta

Oleh : Yarifai Mappeaty*

Usai pelantikan Kabinet Indonesia Maju, mestinya bangsa ini memandang masa depannya dengan sikap optimistik. Tetapi yang terjadi justeru sebaliknya, pesimistik. Bagaimana tidak? Belum apa-apa, sejumlah menteri seperti kompak memproduksi kegaduhan dengan bahan baku isu radikalisme.

Ummat Islam sebagai komponen terbesar bangsa ini, merasa paling tertohok oleh issu tersebut. Gaduh, pasti. Padahal, mestinya para pemimpin elite negeri harusnya sadar kalau rakyat sudah begitu lama mendamba kehidupan yang lebih baik. Sehingga yang selalu ditunggu terucap dari mulut mereka, adalah narasi tentang kesejahteraan, bukanya narasi konflik yang tak henti memantik kegaduhan.

Kalangan muslim terusik. Muslimah bercadar dan pemakai celana cingkrang menjadi pesakitan? Gaya berpakaian mereka dicap secara gegabah sebagai ekspresi radikalisme. Bahkan tak sedikit menudingnya sebagai kelompok radikal. Mau tak mau, umat Islam bereaksi karena, lagi-lagi, kembali merasa dipojokkan.

Tak terelakkan, pro – kontra pun tersulut. Hampir dua pekan energi bangsa ini terkuras oleh perdebatan yang melelahkan. Dimana-mana, definisi radikalisme kembali dipercakapkan. Muslimah bercadar dianggap radikal karena terlalu ekstrim mengamalkan perintah menutup aurat melebihi yang lainnya.

Begitu pula pemakai celana cingkrang . Mereka mungkin terlalu bersemangat mencontoh Rasulullah. Mereka berpendapat bahwa mata kaki Rasulullah selalu tampak dalam berpakaian. Karena dianggap sunnah, mereka lantas mencontoh dengan memakai celana tergantung di atas mata kaki alias cingkrang.

Akan tetapi, jika yang demikian itu dinilai sebagai ekspresi radikalisme, maka semua yang berlebihan, baik dalam pikiran, maupun dalam tindakan, dapat disebut sebagai radikal. Pemahaman itu, celakanya, memenuhi kepala saya saat mengikuti pertunjukan Teater Koma pada suatu malam di Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Cikini. 

Bersama seorang sahabat, Ilham Anwar, pegiat seni teater asal Makassar, kami menonton “J.J Sampah-Sampah Kota” karya Nano Riantiarno. Lakon itu, setelah empat puluh, dipentaskan kembali oleh Teater Koma pada pekan kedua November 2019. Bedanya, pementasan kali itu disutradarai Rangga Riantiarno, putra Nano.

Usai pertunjukan, saya  mencolek lengan Ilham Anwar. "Pertunjukan itu sarat dengan narasi radikal," kataku datar.

Ilo, begitu Ilham Anwar dipanggil berpaling ke arahku dan beberapa saat menatapku tajam. Saya tahu kalau ia mencoba menelisik apa yang sedang berkecamuk dalam pikiranku.

“Pikiranmu liar,” ujarnya singkat.

“Saya menangkapnya begitu,” jawabku sembari mengangkat bahu.

“Kamu masih terbawa oleh perdebatan tentang radikalisme di luar sana,” tudingnya. Kemudian, tanpa meminta, saya pun berusaha menjelaskan padanya.

Pertunjukan “J.J Sampah-Sampah Kota” bercerita tentang penguasa otoriter dan rakyat kecil yang tinggal di bawah kolong jembatan. Penguasa otoriter itu, melalui sejumlah mandor kejam dan bengis, menghalalkan segala  cara untuk mempertahankan keuasaannya. Mulai dari tindakan pembodohan, manipulasi, penindasan, hingga pembunuhan. Semua dilakukan. Itu adalah cara-cara radikal untuk mempertahankan sebuah kekuasaan.

Mbah Kung, Lurah Kolom Jembatan, kendati tiada henti mengalami penindasan, tak sekalipun mencoba melakukan perlawanan. Begitu radikalnya bertahan dengan kesabarannya hingga pada batas ia tak sanggup lagi. Mbah Kung kemudian berubah menjadi sosok pembrontak radikal. Di kepalanya hanya maki, benci, lawan, hingga bom bunuh diri.

Jian, seorang penghuni kolong jembatan. Hidup dari pekerjaan sebagai kuli angkut sampah. Penghasilannya hanya cukup untuk makan sekali dalam sehari bersama isterinya. Meskipun begitu, Jian terkenal sebagai sosok yang jujur. Hal itu memancing para mandor penguasa berbuat iseng menguji kejujurannya. Suatu hari, Jian menemukan tas, tergeletak tak jauh di tempat kerjanya. Tas tersebut berisi uang yang jumlahnya hampir membuatnya pingsan. Seumur hidupnya, belum sekalipun pernah melihat uang sebanyak itu.

Tetapi Jian tak tergoda, sekalipun ia sangat membutuhkan uang banyak untuk biaya persalinan isterinya. Begitu radikalnya ia mempertahankan kejujurannya, Jian memilih pergi menemui Sekretaris Mandor untuk melaporkan dan menyerahkan temuannya. Namun, Jian tak pernah membayangkan kalau kejujurannya itu justru mendatangkan bencana di dalam kehidupannya.

Beberapa hari kemudian, Jian ditangkap jelang isterinya melahirkan. Dengan tuduhan mencuri, ia pun dijebloskan ke dalam penjara tanpa melalui proses peradilan. Padahal, pencurinya adalah Sekretaris Mandor sendiri, tapi ia melaporkan Jian pelakunya kepada Mandor Senior.

Juhro, isteri Jian, adalah sosok yang kelewat radikal mencintai suaminya. Untuk membebaskan Jian, Juhro harus memiliki uang yang banyak untuk membayar hakim di pengadilan. Sementara itu, untuk mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat, tidak ada pilihan baginya selain kembali menjadi pelacur, pekerjaannya sebelum bertemu Jian.

Tidak masalah. Sebab demi cintanya pada Jian, Juhro rela menjual dirinya kepada siapa saja yang dapat memberinya uang. Ia terus melakukannya hingga air susunya kering, tak tersisa setetes pun buat bayinya.  Bahkan terkadang susunya hanya mengalirkan darah. Juhro baru berhenti setelah merasa bahwa uang yang diperlukan sudah cukup.

Namun, kemalangan yang menimpa Jian dan Juhro tak berhenti sampai di situ. Selain bayinya dicuri oleh mandor-mandor penguasa, juga, Jian kemudian dipaksa bunuh diri oleh Sekretaris Mandor di dalam selnya, usai Juhro  menyerahkan uang kepadanya. Tidak ada lagi yang tersisa bagi Juhro, kecuali pembuktian akan cintanya yang radikal kepada suaminya.

Sia-siakah pengorbanan Juhro? Tidak. Sebab kematian Jian justeru menyulut terjadinya revolusi. Kaum Sampah-Sampah Kota bangkit secara radikal melakukan pembrontakan, yang berusaha menumbangkan kekuasaan otoriter para mandor.

“Secara keseluruhan, kemalangan yang menimpa Jian dan Juhro, sebenarnya, juga sebuah penderitaan yang sangat radikal,” tukasku mengakhiri penjelasanku.

“Pandangan itu ditentukan oleh sudut pandang. Sedangkan sudut pandang dipengaruhi oleh tempat dimana kita berdiri. Maka wajar saja jika pikiran kita, sering kali menjadi liar.” Ilo membalas usai menghisap rokoknya dalam-dalam sampai tiga atau empat tarikan.

Kemudian sambungnya, “Tetapi yang saya mau bilang kalau negeri ini, memang mungkin tak banyak berubah selama empat puluh tahun ini. Setidaknya, menurut Teater Koma.” Saya sampai mengernyitkan jidat untuk berusaha menangkap apa yang dia maksud.

Ah, dasar orang teater. Nyaris semua soal dilihat sebagai sebuah semiotika. (ym).

Kalipasir Cikini, 10 November 2019

* Seorang penulis tinggal di Jakarta

TAGS : Tulisan Opini Artikel Kolom Yarifai Mappeaty Pementasan Teater Teater Koma




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :