Sabtu, 14/12/2019 15:01 WIB

Wawancara

Kurikulum yang Memerdekakan Guru

Guru paling tahu kurikulum apa yang relevan untuk peserta didiknya, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di dalam kelas.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim (Foto: Muti/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com – Guru merupakan kunci dalam proses penyempurnaan kurikulum. Sebab, guru paling tahu kurikulum apa yang relevan untuk peserta didiknya, untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di dalam kelas.

Demikian disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, saat pertama kali berbicara secara terbuka di depan awak media, pada Rabu (6/11).

Berikut ini petikan hasil wawancara wartawan Jurnas.com Mutiul Alim dan Forum Wartawan Pendidiikan dan Kebudayaan (Fortadikbud) bersama Mendikbud Nadiem:

Mengenai isu perubahan kurikulum, seperti apa?

Jadi, perubahan kurikulum yang berguna bagi guru, itu kuncinya. Guru yang sebetulnya paling tahu seperti apa (kurikulum) yang relevan untuk muridnya. Jadi kalau dari sisi perubahan saya yang menentukan, pasti selalu ada errornya.

Hal terpenting dalam penyempurnaan kurikulum itu, pertama, arahnya jangan menghafal informasi. Kedua, pelibatan stakeholder, yaitu guru. Dan ketiga adalah sistem metode.

Setiap guru itu menggunakan kurikulum dari berbagai macam hal. Di dalam kelas mereka sebetulnya menggunakan hal-hal lain. Itulah yang ingin kita bangun, sebuah kemerdekaan untuk mencari berbagai macam jalan, untuk menimbulkan pembelajaran yang baik. Karena ujung-ujungnya apakah ini menciptakan pendidikan yang baik untuk murid atau tidak. Itu filternya. Semuanya mau bicara pendidikan baik kurikulum, atau teknologi. Semua harus ada dampaknya pada pembelajaran.

Lalu, bagaimana pelibatan teknologi?

Teknologi itu hanya sebuah pendamping untuk menciptakan banyak hal, bukan suatu objektifnya sendiri. Dengan teknologi, apa benefitnya? Pertama, kita bisa mencapai pemerataan yang lebih baik, sehingga konten-konten misalnya pelatihan guru, lesson-planned, dan lain-lain di daerah terpencil pun selagi punya akses ke 3G, bisa mengakses yang sama dengan yang di kota.

Kedua, untuk efisiensi berbagai macam hal yang tadinya manual face atau harus face to face, bisa digunakan teknologi. Ketiga, adalah fleksibilitas.

Bayangkan alangkah baiknya kalau guru-guru itu bisa bebas memilih apa yang lebih cocok untuk dia, berdasarkan materi pelajaran mana atau pelatihan mana yang menurut mereka itu lebih cocok. Jadi, dengan teknologi semua bisa terjadi. Teknologi mendampingi, sebagai tools, bukan segalanya.

Ujung-ujungnya adalah kualitas pembelajaran di dalam kelas, yaitu interaksi guru dan murid. Itu esensi teknologi yang mendukung apa yang terjadi di dalam kelas.

Berarti, teknologi tidak akan menggantikan guru?

Tidak akan.

Sudah dapat apa dari pertemuan dengan organisasi guru?

Mereka ingin kebebasan dan kemerdekaan untuk (menentukan) apa yang terbaik bagi muridnya. Itu bikin saya terharu mendengar motivasi mereka. Karena menurut saya, yang terpenting dari guru itu adalah purpose dia atau hatinya.

Hatinya itu mau ke mana. Kalau hatinya itu untuk murid dan terbaik untuk murid, maka kompetensi akan dia pelajari dari manapun, untuk mencapai yang terbaik bagi muridnya.

Kemudian kita berikan berbagai macam resource dan kebebasan untuk melakukan apa yang terbaik bagi muridnya. Tentu dengan berbagai macam narasumber, sumber daya, pendanaan, fasilitas, dan lain-lain. Saya rasa kualitas pendidikan di Indonesia akan naik secara otomatis.

TAGS : Mendikbud Nadiem Anwar Makarim Kurikulum Guru




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :