Sabtu, 24/10/2020 16:49 WIB

Literasi Finansial Latih Anak Terbiasa Atur Keuangan

Selain untuk menanamkan pembiasaan untuk mengatur keuangan, literasi finansial juga berguna untuk mengasah inovasi dan kreativitas anak.

Direktur Eksekutif Sekolah Citra Kasih Don Bosco, Boedi Tjusila berbicara dalam diskusi mengenai enterpreunership

Jakarta, Jurnas.com - Pendidikan literasi finansial sebaiknya dikenalkan kepada anak sejak masih berada di jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga sekolah dasar (SD).

Selain untuk menanamkan pembiasaan untuk mengatur keuangan, literasi finansial juga berguna untuk mengasah inovasi dan kreativitas anak.

Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Sekolah Citra Kasih, Boedi Tjusila dalam diskusi `Nurturing Enterpreunership Learning with Akademic Excellence for 4.0 Generation` di Sekolah Citra Kasih Don Bosco, Jakarta pada Sabtu (26/10).

"Kalau yang lebih besar, SMP dan SMA, mereka sudah berpikir bagaimana cost of product (biaya produksi), itu juga bagian dari pelajaran enterpreunership," jelas Boedi.

Boedi mengatakan, literasi finansial atau enterpreunership mendapatkan tempat khusus di Sekolah Citra Kasih Don Bosco. Setiap minggu, peserta didik mendapatkan dua jam mata pelajaran enterpreunership.

Harapannya, kelak para siswa memiliki keterampilan yang matang dalam melihat situasi yang ada. Sebab bagaimanapun, kata Boedi, enterpreunership erat kaitannya dengan kebutuhan yang ada di tengah masyarakat.

"Harapannya mereka bisa menciptakan sesuatu yang betul-betul baru, atau yang sudah ada namun ditambah value (nilai)-nya. Makanya ketika mereka SMP dan SMA, ada proyek bisnis, mengembangkan kreativitas di bidang bisnis model misalnya," ujar Boedi.

Sementara pengamat pendidikan anak, Weilin Han, menekankan pada dasarnya kunci suksesnya pendidikan pada anak yakni dengan menghilangkan rasa takut atau trauma yang ada dalam diri anak.

Namun sebelum mengatasi trauma dan rasa takut tersebut, guru maupun orang tua terlebih dahulu harus mengenali konsep studying dan learning.

Studying, lanjut Weilin Han, yakni proses belajar formal yang berpatokan pada text book. Sementara learning, proses belajar yang lebih reflektif, yakni dengan menanamkan makna yang dapat diserap oleh anak.

"Misalnya, apa yang bisa kamu (siswa) dapatkan dari menguasai penjumlahan, atau bisa bertanya apa itu penjumlahan? Apakah itu membuat orang lain menjadi berkurang, atau kita bisa bertambah bersama-sama," jelas Weilin Han.

Hal senada disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Irwan Syahril. Dia mengatakan, guru harus memahami bahwa anak memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.

"Bagi kita di bidang pendidikan ini adalah tantangan. Yakni bagaimana mempersiapkan kerja bidang pendidikan supaya bisa menjawab hal itu," ujar Syahril.

Sebab anak terus bertumbuh kembang, lanjut Syahril, dengan demikian apa yang dianggap baik dan menjadi standar hari ini, belum tentu hal berlaku lagi.

"Karena hal hal baru yang dia pelajari minggu depan, bisa jadi itu hal berbeda. Apa yang kita anggap baik belum tentu itu akan baik bagi mereka," tandas Syahril.

TAGS : Literasi Finansial Mengatur Keuangan Pendidikan




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :