Sabtu, 23/11/2019 05:29 WIB

Turki Tak Ingin Melihat Kurdi di Suriah

Turki melancarkan serangan pada 9 Oktober dengan tujuan membersihkandaerah Suriah utara di dekat perbatasannya dari militan Kurdi, yang dipandangnya sebagai teroris yang terkait dengan militan pencari otonom dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu saat kunjungan ke Tunis (Foto: Zoubeir Souissi/Reuters)

Ankara, Jurnas.com - Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu mengatakan, Turki tidak ingin melihat satu pun militan Kurdi yang tersisa di zona aman yang direncanakan di Suriah utara pada akhir gencatan senjata.

Dalam sebuah wawancara dengan penyiar Kanal 7 pada Minggu (20/10), Cavusoglu mengatakan, Ankara berharap militan YPG Kurdi akan dipindahkan dari daerah-daerah di mana pemerintah Suriah baru-baru ini dikerahkan.

Ia juga mengatakan Turki dan Rusia akan bertukar pandangan tentang penghapusan gerilyawan YPG dari kota Manbij dan Ayn al-Arab di Suriah utara, yang juga disebut Kobani, selama pembicaraan di tempat peristirahatan Sochi di Laut Hitam Rusia Sochi minggu depan.

Pada Sabtu (19/10) Presiden Turki Tayyip Erdogan mengatakan akan membahas penempatan pasukan pemerintah Suriah ke zona aman selama pembicaraan dengan timpalannya dari Rusia Vladimir Putin di Sochi.

Ia mengatakan, Ankara akan melaksanakan rencananya sendiri jika solusi tidak tercapai. Ia menambahkan, Turki akan menghancurkan kepala militan Kurdi di Suriah utara jika mereka tidak mundur selama periode gencatan senjata.

Turki melancarkan serangan pada 9 Oktober dengan tujuan membersihkandaerah Suriah utara di dekat perbatasannya dari militan Kurdi, yang dipandangnya sebagai teroris yang terkait dengan militan pencari otonom dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Serangan itu terjadi setelah AS tiba-tiba menarik pasukannya keluar dari wilayah itu, membuka jalan bagi Turki untuk melanjutkan rencana aksi militer terhadap sekutu lama Kurdi Washington.

Kemudian pada Kamis (17/10), Ankara psepakat untuk menghentikan serangannya ke Suriah selama 120 jam sementara AS memfasilitasi penarikan gerilyawan Kurdi SDF dari zona aman 20 mil di sepanjang perbatasan Suriah-Turki. Gencatan senjata akan berakhir pada Selasa (23/10).

Namun, bentrokan sporadis terus berlanjut dan masing-masing pihak menyalahkan pihak lain karena melanggar gencatan senjata.

Pada Minggu (20/10), Turki mengatakan salah satu tentaranya terbunuh dan yang lainnya terluka setelah serangan oleh militan Kurdi di kota Tell Abyad di Provinsi Raqqah Suriah.

Kementerian Pertahanan Turki mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan militan YPG dengan senjata anti-tank dan ringan menyerang para prajurit yang sedang melakukan misi pengintaian dan pengawasan.

"Respons langsung berdasarkan pertahanan diri diberikan. Meskipun Perjanjian Zona Aman dengan AS... 20 pelecehan / pelanggaran dilakukan teroris PKK / YPG," katanya. (Presstv)

TAGS : Mevlut Cavusoglu Amerika Serikat Suriah Utara Zona Aman




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :