Selasa, 31/03/2020 17:09 WIB

Pasca Diserang Yaman, Arab Saudi Kehilangan Minyak Senilai USD2 Miliar

Output minyak negara itu turun hampir 1,3 juta barel per hari pada September, dari bulan sebelumnya, menurut data yang disampaikan kepada Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Kilang minyak Arab Saudi, Aramco (Foto: Memo)

Riyadh, Jurnas.com - Arab Saudi dilaporkan kehilangan produksi minyak senilai USD2 miliar, menyusul serangan balasan Yaman pada infrastruktur kilang minyak kerajaan bulan lalu.

Financial Times mengatakan, output minyak negara itu turun hampir 1,3 juta barel per hari pada September, dari bulan sebelumnya, menurut data yang disampaikan kepada Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Riyadh berusaha memulihkan kembali ke produksi minyak kerajaan ke tingkat normal dan ketahanan kelompok energi negara Saudi Aramco. Sementara itu, mempertahankan ekspornya menggunakan minyak dalam penyimpanan.

Namun, konsultan energi, analis, dan eksekutif industri mempertanyakan kemampuan produksi dan ekspor negara itu untuk pulih hingga di atas sembilan juta barel per hari dalam beberapa minggu.

Serangan pasukan Yaman bulan lalu menutup 5,7 juta barel per hari dari produksi minyak Arab Saudi, yang mewakili lebih dari setengah dari produksi global kerajaan atau lima persen.

Analis energi mengatakan serangan itu mirip dengan serangan besar-besaran untuk pasar minyak dan ekonomi global. Serangan ini menyebabkan produksi minyak OPEC menurun ke level terendah sejak 2011.

Serangan itu juga menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi Arab Saudi tahun ini, kata Bank Dunia dalam sebuah laporan.

Laporan yang diterbitkan pada Kamis (10/10) merevisi perkiraan tentang pertumbuhan tahunan produk domestik bruto (PDB) Arab Saudi dari sebelumnya 1,7 peraen yang diumumkan pada bulan April menjadi 0,8 persen

Penurunan tersebut terutama disebabkan pemotongan produksi minyak yang disebabkan serangan 14 September serta memburuknya prospek global.

"Serangan terhadap fasilitas minyak Saudi pada bulan September menyebabkan gangguan pasokan yang signifikan yang juga diperkirakan akan berdampak pada pertumbuhan 2019," kata laporan tersebut.

Arab Saudi menyangkal serangan itu akan berdampak pada keuangan kerajaan, dengan pemerintah memperkirakan bahwa pertumbuhan PDB akan mencapai sekitar 1,9 persen pada akhir 2019.

Serangan itu menyebabkan penurunan penilaian Aramco, perusahaan yang direncanakan untuk listing di pasar saham domestik sebagai bagian dari upaya untuk membiayai program pemerintah untuk modernisasi ekonomi.

Bukan lalu, Riyadh mengatakan, kecewa hasil pengumuman lembaga pemeringkat Fitch yang telah menurunkan peringkat kredit negara itu menjadi A dari A + setelah serangan itu.

TAGS : Arab Saudi Perang Yaman




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :