Jum'at, 22/11/2019 00:01 WIB

Kinerja Ekspor Kopi Kintamani Menunjukkan Tren Peningkatan

Sebanyak 43,46 ton dengan nilai Rp4,8 miliar ekspor Januari hingga Oktober tahun 2019 dibandingkan dengan masa yang sama tahun 2018 yang hanya 32,8 ton senilai Rp2,8 miliar. 

Biji kopi kintamani. (Foto: Ist)

Bandung, Jurnas.com - Rasanya yang khas beraroma jeruk dengan tingkat keasaman yang sedang membuat kopi berjenis arabika asal petani di Kabupaten Kintamani ini terus mewangi dipasar dunia.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil mengatakan, ada tren peningkatan 44 persen pada kinerja ekspor biji kopi hingga Oktober 2019 jika dibanding dengan periode sama di tahun 2018.

Sebanyak 43,46 ton dengan nilai Rp4,8 miliar ekspor Januari hingga Oktober tahun 2019 dibandingkan dengan masa yang sama tahun 2018 yang hanya 32,8 ton senilai Rp2,8 miliar.

Negara tujuan ekspornya pun bertambah dari hanya simbalan negara menjadi 13 negara diantaranya China, Saudi Arabia, Hongkong dan Austria.

"Bali dengan segala keunggulan daya tariknya, terus mencatat prestasi kinerja ekspor pertanian. Kami sangat mengapresiasi kerjasama seluruh stakeholder baik pusat, daerah dan pelaku usaha," kata Jamil saat lakukan kunjungan kerja ke Kantor Karantina Pertanian Denpasar, Seminyak, Kuta Utara, Badung, Bali (12/10).

"Buat masyarakat di Bali, kami juga mengajak untuk bersama-sama petugas karantina menjaga status kesehatan hewan dan tumbuhan agar produk pertanian di Bali tetap aman dikonsumsi, lestari dan laris di pasar ekspor, " tambahnya.

Menurut Jamil, selaku fasilitator perdagangan pihaknya menjadi penjamin kesehatan dan keamanan produk pertanian sesuai dengan protokol ekspor negara mitra dagang. Jamil juga melepas ekspor biji kopi Kintamani dengan volume 25 ton senilai Rp 3 miliar ke Korea Selatan dan Amerika Serikat.

Biji kopi merupakan kelompok medium risk atau komoditas risiko sedang, dengan target pemeriksaan bebas hama Hypothenemus hampeii. Serangkaian tindakan karantina dilakukan guna memastikan produk memenuhi persyaratan Sanitary and Phytosanitary (SPS Measure).

Dalam memberikan layanan karantina, Barantan telah menerapkan layanan ekspor cepat berupa sistem in line inspection yang dapat mempercepat waktu bongkar muat barang di tempat pengeluaran baik melalui bandar udara, pelabuhan dan lainnya.

"Melalui layanan ini memungkinkan pemeriksaan karantina dilakukan sebelum proses pengemasan, sehingga waktu bongkar muat di dapat dipersingkat sekaligus menjamin produk pertanian aman dan sehat tiba di negara tujuan,” tambah Jamil.

Pada kesempatan yang sama, Kementan melalui Karantina Pertanian Denpasar juga melepas ekspor dengan total 46,2 ton atau setara dengan Rp5,7 miliar. Masing-masing adalah Kacang Mede sebanyak 20 ton senilai Rp2, 6 milyar ke Austria.

Bawang Merah asal petani di Sumbawa sejumlah 1 ton senilai Rp15 juta yang dikirim perdana ke Jepang dan komoditas baru dan unik berupa tepung jangkrik sebanyak 100 kilogram dengan nilai Rp. 35 juta ke Inggris.

"Kawal terus akselerasi ekspor komoditas pertanian, permudah dan layani eksportir, agar tren ekspor komoditas pertanian kita terus meningkat setiap tahunnya. Ini pesan pak Mentan," pungkas Jamil.

TAGS : Kinerja Menteri Pertanian Kopi Kintamani Ali Jamil




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :