Sabtu, 23/11/2019 05:29 WIB

Pemanasan Global Bikin Ukuran Serangga Lebih Kecil

Di seluruh dunia, spesies yang peka terhadap perubahan suhu mencari perlindungan di tempat yang lebih tinggi.

Ilustrasi perubahan iklim (foto: UPI)

Jakarta, Jurnas.com – Para ilmuwan dari Universitas York menumukan bahwa ketika suhu naik, spesies rentan, termasuk serangga seperti ngengat, pindah ke daerah yang lebih tinggi. Namun saat mengejar spesies ngengat di pegunungan taman nasional Borneo, para peneliti menyadari bahwa serangga juga semakin kecil akibat pemanasan global.

Ngengat adalah serangga yang berhubungan dekat dengan kupu-kupu dan kedua-duanya termasuk ke dalam Ordo Lepidoptera.

Para peneliti beralih ke survei sebelumnya untuk mengkonfirmasi apa yang mata mereka katakan kepada mereka. Survei ngengat yang dilakukan di Gunung Kinabalu antara tahun 1965 dan 2007 mengungkapkan pengurangan panjang sayap ngengat yang signifikan. Analisis ini dirinci minggu ini dalam jurnal Nature Communications.

Para ilmuwan menentukan bahwa pengurangan ukuran sayap dijelaskan oleh penyusutan badan ngengat dan kedatangan spesies yang lebih kecil pada ketinggian yang lebih tinggi dan lebih tinggi. Jika perubahan ukuran tubuh berlanjut, seluruh ekosistem dapat terpengaruh.

"Ngengat menjadi lebih kecil dapat memiliki dua dampak signifikan: Ini berarti rata-rata seekor serangga memiliki jumlah telur yang lebih sedikit, yang akan mengurangi kapasitas untuk bereproduksi," kata ahli biologi York Chris Thomas dilansir UPI.

 "Kedua, ukuran serangga akan mempengaruhi berapa banyak yang mereka makan dan karenanya ini akan mempengaruhi nilai energi mereka dalam rantai makanan. Jika ukuran serangga berubah menjadi luas, itu dapat menyebabkan perubahan fungsional di seluruh ekosistem,” tambahnya.

Di seluruh dunia, spesies yang peka terhadap perubahan suhu mencari perlindungan di tempat yang lebih tinggi. Di California, misalnya, pikas naik lebih tinggi ke arah puncak pegunungan Cascade dan Sierra Nevada.

Di Borne, Gunung Kinabalu terus berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi tanaman dan hewan yang berusaha melepaskan diri dari panas.

"Area yang kami pelajari di Gunung Kinabalu adalah taman nasional yang dilindungi tetapi bahkan di tempat seperti ini, kami tidak dapat melindungi komunitas serangga dari perubahan iklim, yang mengubah komunitas biologis dan proses ekosistem," kata ahli biologi Jane Hill.

TAGS : Hasil Penelitian Pemanasan Global




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :