Sabtu, 19/10/2019 06:49 WIB

Gelar Konsolidasi, Kementan Terima Kritikan dan Saran Mahasiswa se-Indonesia

Kementan sudah menyadari bahwa para mahasiswa lima atau 10 tahun ke depan akan menjadi penerima tongkat estafet dari para pelaku kepentingan di kementan untuk melanjutkan membangungn pertanian.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arsanti pada acara Konsolidasi yang bertajuk Kedaulatan Pangan untuk Indonesia yang Berdaulat di Jakarta, Rabu (9/10).

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar konsolidasi dengan para mahasiswa yang bergabung dalam Badang Eksekutif Mahasiswa (BEM) di seluruh Indonesia. Tujuannya untuk mengakselerasi program-progam di Kementan.

"Jika nanti ada support mahasiswa di Kalimantan Selatan misalnya mereka ingin terlibat dalam Program Serasi, kami libatkan mereka," ujar Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arsanti pada acara Konsolidasi yang bertajuk "Kedaulatan Pangan untuk Indonesia yang Berdaulat" di Jakarta, Rabu (9/10).

Idha mengatakan, lima atau 10 tahun ke depan, para mahasiswa akan menjadi penerima tongkat estafet dari para pelaku kepentingan di kementan untuk melanjutkan membangunan pertanian berikutnya.

"Kami ingin mahasiswa memahami lebih awal kondisi bagaimana perkembangan pertanian di Indonesia agar bisa melakukan gerakan-gerakan yang akan datang. Jadi intinya adalah untuk melakukan akselerasi program-progam di kementan," sambungnya.

Kementan, kata Idha, selalu mendukung mahasiswa untuk terlibat dan mengawasi program-program prioritas pemerintah. Bahkan Kementan sangat berharap mahasiswa bisa terlibat secara kongkrit.

"Kami sangat ingin nanti mahasiswa terlibat dalam program Upus Pajale, yang merupakan program prioritas Kementan. Bukan hanya itu, tapi juga program lainnya, seperti Upsus Siwab, Serasi, Bekerja dan Petani Milenial," katanya Idha.

"Jadi kami ingin mengajak mahasiswa melihat kegiatan-kegiatan pertanian yang ada saat ini dan tentu saja bagaimana menyikapinya serta melihat selam lima tahun ini keberhasilnya. Dan sebagai pemegang estafet melanjutkan ke depan," tambahnya.

Soal kritikan dari mahasiswa, Idha mengatakan, Kementan sangat terbuka. Meksi program-program Kementan sudah menunjukkan produktivitas yang baik, tidak bisa memungkiri masih ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian pemerintah.

"Kami sikapi dengan baik, misalnya alih fungsi lahan, traktor atau alsintan yang tidak tepat guna seperti yang disampaikan para mahasiwa tadi," ujar Idha.

Namun begitu, Idha mekankan agar mahasiswa juga memahami struktur pemerintahan agar tidak bercampur baur. Misalnya Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatur terkait pasar dan harga dan pemerintah daerah terkait alokasi alsitan, distribusi pupuk dan benih.

"Jadi kadang-kadang permasalahnya bukan hanya di kementan saja, terkait dengan distribusi pupuk, seperti yang disampaikan tadi semakin kurang kuantitasnya. Semakin berkurang ini karena memang pupuk ini diajukan melalui RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok)," ujar Idha.

"Nah kemudian kami juga berikan subsidinya berdasarkan RDKK tersebut. Nah ketika sudah berikan subsidinya ternyata ada juga dilapangan pupuk telat salur kemudian pupuk tidak disalurkan sebagaimana semestinya. Persoalan ini notabene bukan di ranah kementan," sambungnya.

TAGS : Sektor Pertanian Konsolidasi Mahasiswa Idha Widi Arsanti




TERPOPULER :