Rabu, 23/10/2019 06:38 WIB

Di Sektor Pangan Kementan Lakukan Gerakan Radikal

Founding Fathers pernah mengatakan, pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa. 

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) Dedi Nursyamsi dalam Konprensi Pers dan dan Kunjungan Pers ke Bogor Agro Science Techno Park (BASTP) di Kantor Pusat Penelitian Cimanggu, Bogor, Jawa Barat, Jumat 14 Desember 2018. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Founding Fathers pernah mengatakan, pangan merupakan soal mati-hidupnya suatu bangsa. Pesan itulah yang dipagang teguh Kementerian Pertanian (Kementan) untuk melakukan gerakan radikal dan revolusioner di sektor pertanian.

Begitu kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi pada acara Konsolidasi Nasional Mahasiswa Peduli Pertanian Indonesia dengan tema "Kedaulatan Pangan Untuk Indonesia yang Berdaulat" di Jakarta, Rabu (9/10).

Dedi mencontohkan Uni Soviet. Soviet pernah jadi negara adidaya pada pertengahan 80-an. Namun, runtuh setelah mengalami krisis pangan yang kemudian diikuti kritis-kritis lainnya, termasuk konflik etnis.

"Berpikir masalah pangan kita harus radikal dan revolusioner. Maksudnya kita harus lakukan upaya yang besar-besaran di sektor pertanian," ujar Dedi.

Kementan di bawah komando Andi Amran Sulaiman saat ini sudah melakukan gerakan revolusioner di sektor pertanian. Misalnya, dari pertanian tradisional menjadi pertanian modern yang berbasis mekanisasi.

Mekanisasi pertanian yang gencar dilakukan Kementan sejak 2015 memicu generasi milenial kembali ke sektor pertanian. Alat mesin pertanian (alsintan) mampu memangkas biaya usaha pertanian sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Hingga tahun 2018, sebanyak 438.506 unit alsintan yang terdiri dari traktor roda dua, traktor roda empat, transplanter (penanam), dan pompa air serta excavator atau backhoe untuk diserahkan kepada pemerintah untuk digunakan para petani.

Berdasarkan hasil penelitian juga dapat disimpulkan bahwa dengan pengembangan penggunaan alsintan yang sesuai dengan kebutuhan pada tingkat petani dapat memacu keberhasilan program tersebut untuk meningkatkan produksi, khususnya beras

Menurut data BPS, rata-rata kenaikan ekspor pertanian per tahun sebesar 2,4 juta ton dan tercatat sejak pemerintahan Jokowi-JK, ekspor naik 9 juta ton pertama dalam sejarah.

Kemudian peningkatan PDB sektor pertanian nomor 5 di dunia saat ini. Nilai PDB Pertanian tumbuh daru 3,7 persen dari target 3,5 persen.

TAGS : Sektor Pertanian Konsolidasi Mahasiswa




TERPOPULER :