Jum'at, 18/10/2019 00:36 WIB

Sambut Revolusi Konsumen, Kementan Ajak Investor Jajal Empat Usaha Agribisnis

Volume ekspor per sektor selama kurun waktu Januari hingga Agustus 2019 nilai ekonomi sebesar Rp400 triliun.

Kepala Badan Karantina, Kementerian Pertanian (Kementan), Jamil usai memberikan arahan pada diskusi bertajuk Percepatan Investasi di Bidang Pertanian di Jakarta, Rabu (18/9).

Jakarta, Jurnas.com - Indonesia akan memasuki masa revolusi konsumen pada 2020 mendatang. Hal ini dirasa menjadi momentum yang secara positif akan meningkatkan daya saing untuk Indonesia di mata investor asing.

Demikian disampaikan Kepala Badan Karantina, Kementerian Pertanian (Kementan), Jamil saat memberikan arahan pada diskusi bertajuk Percepatan Investasi di Bidang Pertanian di Jakarta, Rabu (18/9).

Percepatan investasi ini sejalan dengan instruksi Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman untuk mendorong pertumbuhan ekspor dan investasi dibidang pertanian.

"Peluang ini harus kita sambut secara proaktif, untuk itu kita disini bersama merumuskan apa yang dibutuhkan para calon investor guna penerapan kebijakan kedepan," ujar Jamil.

Menurut Jamil, upaya untuk terus mempersingkat dan mempermudah proses perizinan investasi sangat diperlukan sekaligus juga mempromosikan potensi dan peluang produk pertanian yang ada menjadi agenda yang penting.

Saat ini, kata Jamil, pihaknya sudah menerapakan empat terobosan guna mengakselerasi ekspor produk pertanian. Pertama, layanan Prioritas yang diberikan kepada pengguna jasa yang patuh, pemeriksaan fisi didasarkan pada metoda sampling.

"Kedua, yakni In-Line Inspection, di mana eksportir dilatih dan disertifikasi dalam menyiapkan komoditas yang sehat untuk mempermudah dan mempercepat proses karantina ekspor," ujar Jamil.

Ketiga, sambung Jamil, protokol Karantina, yakni melakukan komunikasi dan terobosan kebijakan SPS dengan negara mitra, guna menghilangkan hambatan ekspor. Keempat, E-Cert, yakni pertukaran sertifikat elektronik dengan negara tujuan ekspor sebagai jaminan kepastian keberterimaan produk.

"Kami berharap dalam diskusi ini dapat tergambarkan peluang industri agribisnis perkarantinaan sekaligus mencari cara jitu menghadapi situasi ekonomi dunia saat ini yang berada dalam ancaman resesi dunia," bebernya.

Selain itu, Jamil menuturkan kondisi global seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan China dapat menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan ekspor.

Khususnya bagi produk Sarang Burung Walet dan produk turunannya serta industri Peti Kayu Kemas dan Fumigasi sebagai pendukung yang menjadi persyaratan negara tujuan ekspor.

"Berdasarkan data sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST, volume ekspor per sektor selama kurun waktu Januari hingga Agustus 2019 nilai ekonomi sebesar Rp400 triliun," tuturnya.

Jamil menyebutkan adapun rincianya yakni Sub Sektor Tanaman Pangan sebanyak 742,6 ribu ton, Sub Sektor Hortikultura 704,9 ribu ton, Sub Sektor Peternakan terdiri dari hewan hidup 948.405 ekor dan produk hewan sebanyak 20,3 ribu ton, Sub Sektor Perkebunan 186,8 juta ton.

"Sub Sektor diluar pertanian, namun memerlukan sertifkasi karantina sebagai persyaratan negara tujuan yakni Kehutanan 296,029 ton dan Aquatic Plant 206.680 ton," ujarnya.

Jamil pun menyebutkan data ekspor Sarang Burung Walet dan produk turunannya yang merupakan ekspor dengan pertumbuhan yang cukup signifikan di triwulan kedua tahun 2019, yaitu sebesar 788 ton yang tersertifikasi di Barantan pada tahun 2018 total ekspornya mencapai 1.135 ton.

Sementara untuk industri pendukung ekspor produk pertanian berupa peti kemas kayu dan fumigasi, turut menyumbang terhadap daya saing produk pertanian di pasar global.

"Yakni dengan tingkat keberterimaan produk di pertanian Indonesia di negara tujuan. Saat ini negara tujuan ekspor untuk produk pertanian Indonesia lebih dari 120 negara," sebutnya.

Jamil menekankan dalam diskusi ini perlu untuk mendengar langsung apa yang diinginkan serta diperlukan para pelaku usaha di empat bidang dimaksud disamping masukan dari para pemangku kepentingan.

Selanjutanya, rumusan hasil diskusi paling tidak masing-masing 3 pokok saja, yakni dirumuskan, diputuskan dan kemudian akan ditindaklanjuti dengan usulan kebijakan yang betul-betul bermanfaat bagi semua iklim berinvestasi di bidang pertanian, secara khusus untuk empat jenis usaha tersebut.

"Pesaing utama kita di dunia untuk industri yang sama adalah Vietnam dan Malaysia, kita harus sigap berbenah untuk dapat memenangkan kompetisi dagang ini," tegas Jamil.

TAGS : Kinerja Menteri Pertanian Karantina Pertanian Revolusi Konsumen




TERPOPULER :