Sabtu, 21/09/2019 01:37 WIB

Rusia Kecam Janji Kampanye Kontroversial Netanyahu

Kementerian Luar Negeri Rusia memperingatkan bahwa implementasi rencana Netanyahu dapat memantik ketegangan yang sudah parah di wilayah tersebut.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menunjuk peta Jordan Valley saat memberikan pernyataan di Ramat Gan, dekat Tel Aviv, pada 10 September 2019. (Foto: AFP)

Moskow, Jurnas.com - Rusia mengutuk janji kampanye Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu yang bertekad mencaplok Laut Mati utara dan Lembah Jordan di Tepi Barat yang diduduki pada malam kunjungannya ke kota Sochi di Rusia.

Kementerian Luar Negeri Rusia memperingatkan bahwa implementasi rencana Netanyahu dapat memantik ketegangan yang sudah parah di wilayah tersebut. Upaya ini juga dapat melemahkan harapan untuk perdamaian yang telah lama ditunggu-tunggu di wilayah itu.

Karena itu, Rusia mendesak Tel Aviv kembali ke meja perundingan langsung berdasarkan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang relevan, Prinsip Madrid dan Prakarsa Perdamaian Arab.

Kecaman itu terjadi menjelang kunjungan Netanyahu ke kota resor Laut Hitam Sochi, di mana ia dijadwalkan mengadakan pertemuamln dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin pada Kamis (12/9).

Kunjungan yang diumumkan pada Selasa (10/9) akan diadakan hanya lima hari sebelum pemilihan legislatif yang dilakukan oleh Israel. Terakhir kali Putin dan Netanyahu bertemu di Moskow pada 4 April, lagi lima hari sebelum pemilihan Israel terakhir.

Netanyahu sudah berjanji melanjutkan rencana pencaplokan jika dia menang dalam pemilihan mendatang.

"Hari ini saya mengumumkan niat saya untuk melamar dengan pembentukan pemerintahan selanjutnya, kedaulatan Israel atas Lembah Jordan dan Laut Mati utara," kata Netanyahu dalam pidato yang disiarkan langsung di saluran TV Israel pada Selasa malam.

Ketua Gerakan Liberal Nasional Likud juga menegaskan niatnya untuk mencaplok permukiman Israel di seluruh Tepi Barat yang diduduki jika terpilih kembali, dan dalam koordinasi dengan Presiden AS Donald Trump.

Rencana itu menuai kritik tajam dari negara-negara di Timur Tengah, termasuk Yordania dan Turki, dan badan-badan internasional seperti PBB dan Liga Arab.

Sebelelumnya, Rabu (11/9) Iran mengatakan perdana menteri Israel berusaha memenangkan kembali kursi perdana menteri melalui aneksasi dan tuduhan anti-Iran.

"Netanyahu adalah setelah suara untuk tetap berkuasa dan melanjutkan dengan kebijakan dan agresi ekspansionis satu hari melalui melakukan tuduhan terhadap Republik Islam Iran dan suatu hari dengan mengumumkan niat jahatnya untuk mencaplok bagian-bagian tertentu dari Palestina," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi.

Ironisnya, Arab Saudi yang berusaha untuk menormalkan hubungan dengan Israel juga mengkritik Netanyahu untuk peningkatan berbahaya terhadap rakyat Palestina dan menyerukan pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

OKI kemudian mengumumkan, pihaknya akan mengadakan pertemuan darurat segera di tingkat menteri luar negeri untuk meninjau kembali rencana perdana menteri Israel.

Sekretaris Jenderal OKI, Yousef bin Al-Othaimeen sangat mengutuk niat Netanyahu, menekankan bahwa "pengumuman berbahaya adalah agresi lain terhadap hak-hak rakyat Palestina."

Ia mengatakan, pertemuan OKI akan membahas kemungkinan langkah-langkah politik dan hukum yang dapat diambil untuk menghadapi agresi baru Israel.

TAGS : Israel Teroris Israel Teroris Benjamin Netanyahu




TERPOPULER :