Jum'at, 10/04/2020 04:34 WIB

Pengamat: Literasi Guru dan Siswa Indonesia Masih Lemah

Indra Charismiadji menyebut kemampuan literasi guru dan siswa Indonesia, secara umum masih sangat lemah.

Praktisi pendidikan Indra Charismiadji (Foto: Muti/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Praktisi pendidikan, Indra Charismiadji menyebut kemampuan literasi guru dan siswa Indonesia, secara umum masih sangat lemah.

Hal itu dibuktikan dengan angka Indonesian National Assesment Programme (INAP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), di mana kemampuan membaca 46,83 persen masyarakat Indonesia masih kurang.

"Literasi guru dan anak-anak Indonesia sangat lemah. Ini didukung oleh kajian luar negeri seperti UNESCO, dan bahkan Balitbang (Kemdikbud) sendiri, juga menunjukkan kemampuan literasi anak-anak kita lemah," terang Indra dalam bincang-bincang menyambut `Hari Aksara Internasional` dengan awak media, pada Senin (2/9) di Jakarta.

Dalam kenyataannya di lapangan, lanjut Indra, masih sering ditemui guru yang kesulitan membaca perintah. Dengan kualitas seperti ini, maka kualitas literasi anak didik pun akan berpengaruh.

"Guru saja literasinya perlu ditingkatkan apalagi anak-anak," ujar Indra.

Kondisi itu diperburuk dengan belum adanya cetak biru (blue print) pendidikan di Indonesia. Kendati sudah memiliki anggaran khusus pendidikan sebesar 20 persen dari APBN, namun tanpa blue print, pendidikan tidak memiliki fokus.

Karena itu, jika pemerintah berniat membenahi pendidikan, Indra menyarankan agar perbaikan dilakukan mulai dari tingkat dasar, yakni taman kanak-kanak (TK).

Siswa TK, kata Indra, jangan dibebani dengan kewajiban baca tulis hitung (calistung). Dan sebaliknya, dibiarkan bebas bermain untuk mengembangkan imajinasi mereka.

"(Siswa TK) harus banyak mendengarkan cerita. Orang tua indonesia ini kan kebiasaan, karena ingin melihat anaknya pintar, sejak kecil disuruh les ini les itu," papar dia.

Kualitas guru juga harus ditingkatkan. Upaya tersebut, menurut Indra, dapat dilakukan dengan mereformasi pelatihan guru, serta pembenahan Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK).

"Dengan melihat anggaran terbatas, justru pendidikan paling rendah harus dikuatkan yaitu SD. Mereka kan ruangnya paling banyak rusak, kualitas guru (juga) rendah. Kenapa SD sering dianaktirikan? Karena pejabat atau politis tidak senang ngurus SD," kata dia.

Dalam kesempatan itu, Indra juga menanggapi survei World Reading Habits 2018 yang menunjukkan bahwa minat baca orang Indonesia di atas negara maju. Dia mengatakan survei itu cuma menghitung responden yang membaca di dalam perpustakaan.

Sementara di negara maju seperti Eropa dan Amerika, gemar membaca bukan lagi sebatas slogan, melainkan sudah dipraktikkan dalam bentuk kebiasaan.

"Surveinya itu bukan gemar membacaya, tapi membaca di dalam perpustakaan. Karena negara maju tersebut gemar membacanya lebih dari kita, tapi karena sudah era digital mereka tidak lagi berpatokan pada kertas, tapi pada e-book," ujar Indra.

"Di negara maju, mereka membaca lebih lama. Perpustakaan daerah penuh dengan orang. Mereka, kalau butuh hiburan, membaca. Sudah habit. Cara mereka belajar juga beda," tandas dia.

TAGS : Literasi Indra Charismiadji Membaca Buku




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :