Kamis, 19/09/2019 09:28 WIB

Beras Organik Kualitas Ekspor, Kementan Terapkan Agens Hayati Kendalikan OPT

Paenibacillus polymyxa merupakan bakteri antagonis yang cukup efektif untuk menekan serangan OPT, seperti blas dan Hawar Daun Bakteri pada pertanaman padi.

Ilustrasi padi organik (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Ekspor beras organik dari tahun ke tahun meningkat. Tercatat, Kementerian Pertanian (Kementan) sudah menerbitkan rekomendasi ekspor 143 ton beras organik dan hingga Juni 2019 sebanyak 252 ton beras organik.

Kepala Bidang Pelayanan Teknis Informasi dan Dokumentasi, Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), Suwarman, menyatakan, untuk menghasilkan beras organik tentunya tidak terlepas dari sistem budidaya yang menghindari bahan-bahan kimia, salah satunya dalam hal pengendalian OPT dengan menggunakan agens hayati.

"Penerapan teknologi pengendalian OPT pada pertanian organik dengan tindakan pencegahan yang sesuai dengan prinsip budidaya organik," ujar Suwarman di Jatisari, Karawang, Senin (2/9).

Suwarman menjelaskan, Paenibacillus polymyxa merupakan bakteri antagonis yang cukup efektif untuk menekan serangan OPT, seperti blas dan Hawar Daun Bakteri pada pertanaman padi.

Kabar baiknya, di alam banyak terdapat mikroorganisme yang bisa dimanfaatkan untuk mengendalikan OPT yang menyerang pada pertanaman, baik itu yang bersifat antagonis maupun entomopatogen.

"Hal ini selaras dengan pesan Bapak Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi pada saat kunjungan kerja di Balai Besar Peramalan OPT, bahwa setiap penyakit dan hama pasti ada obatnya di sekitarnya, yaitu secara alami," ujarnya.

Agus, petani 65 tahun asal Desa Galudra, Kecamatan Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta yang sudah membudidayakan padi organik sejak tujuh tahun yang lalu mengungkapkan awal memulai budidaya padi organik.

Awalnya, ia menetralisir air yang mengalir dari sumber aliran dengan menggunakan tanaman eceng gondok yang ditanam dan ditampung dalam kolam. Kemudian air tampungan tersebut dialirkan pada petakan padi organik seluas lebih kurang 2500 m2.

"Sudah tiga tahun terakhir, saya jarang menemukan serangan OPT yang cukup tinggi. Hal ini dikarenakan penerapan teknologi yang berkesinambungan disetiap musimnya. Teknologi pengendalian OPT dimulai dari penyeleksian benih dengan menggunakan air garam, selanjutnya direndam dalam larutan bakteri Paenibaccillus polymyxa,"  ungkapnya.

Pada saat olah tanah,kata Agus, dirinya mengaplikasikan pupuk kandang berupa kotoran sapi sebanyak dua kuintal dilanjutkan dengan pemupukan kedua dan ketiga dengan menggunakan air kencing hewan ternak.

Sementara upaya dalam menerapkan teknologi pencegahan terhadap kemunculan OPT, yaitu dengan mengaplikasikan larutan bakteri Bacillus subtilis dan Pseudomonas flourescens pada saat umur tanaman 2, 4 dan 6 MST dengan dosis lima cc  per nliter.

"Alhamdulillah dengan aplikasi agens hayati, kemunculan OPT bisa dicegah," terangnya.

Perlu diketahui, ekspor beras organik tersebut berhasil masuk ke beberapa negara, seperti Jepang, Hongkong, Jerman, US, Perancis, Malaysia dan Singapura dari beberapa perusahaan seperti CV Shinta Rama, PT Bloom Agro, PT Bumi Subur Sejahtera Lestari dan PT Sejahtera Makmur Semesta.

TAGS : Kinerja Menteri Pertanian Ekspor Pangan Beras Organik




TERPOPULER :