Rabu, 21/10/2020 00:13 WIB

Nastiti, Doktor Termuda Unair Lulus dengan IPK 4

Perempuan kelahiran Madiun, 20 Juli 1993 itu berhasil meraih indeks prestasi komulatif (IPK) cumlaud, dengan nilai 4 (empat), lewat desertasi berjudul `Identifikasi Molekuler Bakteri Tuberkulosis`.

Doktor termuda dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Nastiti Intan Permatasari (Foto: Muti/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com – Menyandang gelar doktor di usia kurang dari 30 tahun bukan hal yang tidak mungkin. Hal ini dibuktikan oleh Nastiti Intan Permatasari, setelah menyelesaikan jenjang S3 Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, pada awal Agustus lalu.

Bahkan yang lebih membanggakan, perempuan kelahiran Madiun, 20 Juli 1993 itu berhasil meraih indeks prestasi komulatif (IPK) cumlaud, dengan nilai 4 (empat), lewat desertasi berjudul `Identifikasi Molekuler Bakteri Tuberkulosis`.

Ditemui baru-baru ini di kantor Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Jakarta, Nastiti menuturkan bahwa sejak jenjang awal dia bukanlah mahasiswa kedokteran.

Di tingkat sarjana (S1), Nastiti memilih jurusan Biologi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), yang dia selesaikan dalam waktu tiga setengah tahun.

“Malah pernah ingin melanjutkan ke biologi forensi, karena saat PKL (Praktik Kerja Lapangan) di forensi Polda Jawa Timur,” kata Nastiti.

Namun niat itu urung dia teruskan, setelah mendapatkan tawaran beasiswa Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU), program binaan Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti (SDID) Kemristekdikti.

Pasca mendapatkan beasiswa PMDSU inilah Nastiti akhirnya menjadi mahasiswa kedokteran. Di jenjang magister, perempuan dua bersaudara itu memilih jurusan Ilmu Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran Unair. Sedangkan jenjang doktor, dia bergabung dengan jurusan Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran.

Bicara soal Desertasi-nya, Nastiti meneliti bakteri tuberkulosis yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Dia menemukan sejumlah bakteri yang resisten terhadap obat, baik yang disebabkan tertular bakteri mutan, maupun ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan.

“Tapi karena basisnya saya dari Biologi, jadi lebih ke identifikasi bakterinya. Mungkin nanti yang lain bisa kolaborasi dengan institusi kesehatan, untuk meneliti faktor kedua,” jelas dia.

Hal ini diamini oleh Dirjen SDID Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti. Dia menyebut Indonesia merupakan pusat untuk penyakit-penyakit tropis.

Karena itu, penelitian terkait hal ini harusnya digenjot, mengingat luasnya wilayah Indonesia, serta jumlah kasus yang terbilang luar biasa. Sebagai contohnya, wabah malaria.

“Yang berat, kecenderungannya yang resisten terhadap mikrobateria jumlahnya semakin naik. Kalau nanti sampai berapa bakteri itu resisten terhadap antibiotik, akan bermasalah,” ujar Ghufron.

“TB itu kalau tidak resisten, pengobatan cukup enam bulan. Kalau sampai resisten bisa dua tahun. Anak harus dua tahun minum obat,” imbuh dia.

Atas temuan tersebut, Ghufron memberikan apresiasi. Menurut dia, Nastiti dan para penerima beasiswa PMDSU di seluruh Indonesia, merupakan bagian dari tindak lanjut manajemen talenta yang menjadi program Presiden Joko Widodo.

Karena itu, lanjut Ghufron, tolak ukur PMDSU merupakan kemampuan mahasiswa di bidang akademik, bukan keahlian maupun tingkat perekonomian.

“Karena PMDSU ini harus anak-anak yang punya talenta. IPK minimal 3,25 untuk S1. Nanti kalau sudah selesai S3, bolehlah IPK-nya 4,” tandas dia.

TAGS : Nastiti Intan Permatasari Doktor Termuda Unair Ali Ghufron Mukti




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :