Rabu, 18/09/2019 08:02 WIB

Afrika Selatan Larang Pemajangan Bebas Bendera Apartheid

Pengadilan di Johannesburg memutuskan bahwa pemajangan bendera apartheid secara sembarangan mengingatkan pada penindasan

Ilustrasi Aparheid

Johannesburg, Jurnas.com - Pengadilan Kesetaraan Johannesburg di  Afrika Selatan melarang pemajangan atau pengibaran bendera era apartheid lama dan menetapkan tindakan itu sama dengan pidato kebencian dan pelecehan di negara yang mengalami diskriminasi rasial selama puluhan tahun.

"Pemajangan sembarangan dari bendera apartheid lama secara virtual menyampaikan pesan kepercayaan atau dukungan rasisme, supremasi kulit putih dan penaklukan penduduk kulit hitam," kata Hakim Phineas Mojapelo dalam keputusannya.

Nelson Mandela Foundation dan Komisi Hak Asasi Manusia Afrika Selatan mengajukan pengaduan ke pengadilan kesetaraan setelah sekelompok pengunjuk rasa kulit putih membawa bendera apartheid saat melakukan aksi protes atas dugaan pembunuhan terhadap petani kulit putih pada 2017.

Namun, AfriForum, kelompok yang sebagian besar mewakili warga kulit putih Afrika Selatan, menantang para pengadu di pengadilan dengan mengatakan tindakan mereka akan mengancam kebebasan berbicara.

Dalam putusannya, Hakim Mojapelo mengatakan bahwa bendera dipandang sebagai sisa apartheid yang konstan.

Dia menjelaskan bahwa saat ini bendera hanya boleh ditampilkan untuk tujuan bersejarah di museum atau untuk tujuan akademik, jurnalistik dan artistik.

Nelson Mandela Foundation, dalam argumen mereka, memberikan kesaksian bahwa bendera lama tidak mewakili apa pun selain sistem segregasi dan penaklukan rasial yang tidak manusiawi yang memerintah Afrika Selatan sebelum 27 April 1994 ketika kekuasaan minoritas kulit putih berakhir.

Mereka yang terus menampilkan bendera apartheid terancam dikenai denda besar atau akan dikenai layanan masyarakat. Bendera apartheid yang berwarna oranye, putih dan biru diadopsi oleh pemerintahan minoritas kulit putih di Afrika Selatan pada 1928.

Bendera tersebut mewakili sejumlah bendera koloni, termasuk bendera Pangeran Belanda dan bendera Union Jack Inggris yang mengingatkan kenangan pahit negara itu pada masa kolonial.

"Kita adalah negara pelangi. Saya tidak mengerti mengapa sejumlah orang terus menampilkan bendera apartheid yang mengingatkan kita tentang masa lalu kita. Yang kita butuhkan adalah bergerak maju sebagai negara yang bersatu," kata Malume Mike, 57, seorang sopir taksi di Johannesburg, kepada Anadolu Agency, pada Kamis.

Warga Afrika Selatan beramai-ramai menyambut putusan tersebut di media sosial dengan mengatakan bahwa seluruh warga perlu dipersatukan dalam keanekaragaman. (Hassan Isilow/AA)

TAGS : Aparheid Afrika Selatan Nelson Mandela Foundation




TERPOPULER :