Kamis, 22/10/2020 10:55 WIB

Kemristekdikti Ogah Biayai Diaspora Tak Berkontribusi

Untuk menentukan kontribusi diaspora, Ghufron menggunakan sejumlah indikator. 

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti (Foto: Muti/Jurnas)

Jakarta, Jurnas.com - Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) nantinya tidak akan mengeluarkan biaya bagi diaspora yang tidak berkontribusi dalam pengembangan riset di Indonesia.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti, terkait kegiatan Simposium Cendekiawan Kelas Dunia (SCKD) 2019 yang mengundang diaspora Indonesia di luar negeri, dengan menggunakan anggaran negara.

"Kami nanti evaluasi. Diaspora yang kurang kontribusinya, tentu kalau ada (SCKD) lagi, kita tidak undang atau biayai datang ke Indonesia. Atau boleh datang, tapi biaya sendiri. Sehingga biaya kita keluarkan jelas," kata Ali Ghufron pada Minggu (18/8) malam dalam kegiatan opening dinner dan pembentukan organisasi diaspora 2019 di Jakarta.

Untuk menentukan kontribusi diaspora, Ghufron menggunakan sejumlah indikator. Pertama, dari segi kolaborasi yang terbangun antara diaspora dengan ilmuwan dalam negeri. Kedua, dari jumlah riset bersama (joint research) yang dihasilkan.

"Kemudian kita lihat publikasi bersama (joint publication). Dan keempat, apakah ada hasil dari proposal yang bisa menarik dana dari luar ngeri," terang Ghufron.

Selain itu, Ghufron menambahkan, diaspora didorong menjadi jembatan bagi ilmuwan lokal, agar bisa memanfaatkan fasilitas di tempat diaspora bekerja di luar negeri.

SCKD 2019 diikuti oleh 55 diaspora Indonesia yang tiba di Indonesia pada 18 Agustus 2019. Selanjutnya, mereka akan bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, hingga menggelar kuliah umum (public lecture) pada 22 Agustus 2019.

Ghufron berharap tahun ini tingkat kontribusi diaspora Indonesia meningkat dibandingkan tahun lalu. Sebab, Indonesia kaya akan sumber daya potensial yang bisa diglobalisasikan.

"Tahun lalu yang tidak (berkontribusi) itu di bawah 20 persen. Semua memang berkontribusi, cuma kalau tidak sangat signifikan, tidak kami undang lagi," tandas dia.

TAGS : Diaspora Indonesia Kemristekdikti Ali Ghufron Mukti




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :