Minggu, 25/08/2019 22:46 WIB

Survei ETOS: Bamsoet Ungguli Airlangga sebagai Calon Ketum Golkar

Ketua DPR, Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengungguli Airlangga Hartarto sebagai calon Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar menjelang musyawarah nasional (Munas) dalam pemilihan pimpinan pusat untuk masa bakti 2019-2024 mendatang.

Ilustrasi Partai Golkar

Jakarta, Jurnas.com - Ketua DPR, Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengungguli Airlangga Hartarto sebagai calon Ketua Umum (Ketum) Partai Golkar menjelang musyawarah nasional (Munas) dalam pemilihan pimpinan pusat untuk masa bakti 2019-2024 mendatang.

Hal itu berdasarkan hasil survei yang dirilis ETOS Indonesia Institute dengan tema "Menuju Konsolidasi Organisasi Partai Golkar Dalam Munas Partai Golkar 2019" yang dilaksanakan sejak 1-14 Juli 2019.

Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute, Iskandarsyah mengatakan, dari hasil survei tersebut publik sudah mengetahui siapa figur terkuat calon Ketum Partai Golkar ke depan. Setidaknya, dua nama yang selama ini disebut-sebut menjadi calon Ketum Golkar, Bambang Soesatyo memperoleh 42 persen dan Airlangga Hartarto sebesar 37 persen.

Sementara itu, empat nama calon lainya yakni Indra Bambang Utoyo mendapat  8 persen, Agus Gumiwang 7 persen, Ahmad Doli Kurnia 5 persen dam Yorrys Raweyai 1 persen.

"Berdasarkan hasil survei nasional ETOS Indonesia institute diperoleh 63 persen responden yang menginginkan pergantian kepemimpinan pusat partai," kata Iskandarsyah, melalui rilisnya, Selasa (16/7).

Kata Iskandarsyah, sejumlah faktor yang menjadi penyebab menurunkan kepercayaan kader kepada Airlangga. Salah satunya adalah perbandingan perolehan suara dan kursi Golkar dalam Pemilu 2014 dan 2019. Dimana, Golkar mengalami penurunan yang cukup signifikan.

"Dalam dua pemilu, yaitu 2014 dan 2019 terjadi penurunan signifikan terhadap perolehan suara Partai Golkar, termasuk (pada akhirnya) turunnya juga perolehan kursi Partai Golkar di DPR-RI," kata Iskandarsyah.

Kata Iskandarsyah, perolehan suara terjadi penurunan sebesar 1.202.523 suara atau setara dengan 2,44 persen. Penurunan tersebut juga pada akhirnya mempengaruhi perolehan kursi DPR dengan kehilangan enam kursi, pada Pemilu 2014 berjumlah 91 kursi kemudian hanya tersisa 85 kursi.

"Pada Pemilu 2014 Partai Golkar meraih 18.432.312 (14,75 persen) suara. Sedangkan pemilu yanng diselenggarakan 17 April 2019 Golkar hanya mampu meraih 17.229.789 (12,31 persen). Berdasarkan hasil rekapitulasi perolehan suara Nasional Pemilu 2014 Golkar memperoleh 91kursi di DPR RI dan Pemilu 2019 85 kursi, artinya terjadi penurunan suara," jelas Iskandarsyah.

Lalu bagaimana pendapat para kader parpol berlambang pohon beringin tersebut terhadap hasil pemilu 2019?

"Di tingkat kepuasan kader dan fungsionaris partai terhadap hasil pemilu 2019 menunjukkan penurunan signifikan. Hanya 23 persen responden yang menyatakan puas terhadap hasil pemilu 2019, sedangkan 69 persen menyatakan tidak Puas terhadap hasil pemilu 2019, sementara sisanya tidak menjawab (8 persen)," beber Iskandarsyah.

Iskandarsyah membeberkan, sejumlah penyebab menurunnya hasil perolehan suara Partai Golkar pada Pemilu 2019 yanng sangat signifikan. Dimana, penurunan perolehan suara dan kursi DPR dari PArtai Golkar disebabkan oleh beberapa hal.

"Pertama, adalah karena faktor Kepemimpinan (42 persen). Kedua, tidak memiliki Isue Strategis (14 persen). Ketiga tidak terlaksananya konsolidasi yang baik terdapat (11 persen). Sementara varian penyebab lainnya berada dibawah 10 persen, diantaranya dikarenakan persaingan antar Parpol, kasus korupsi kader partai dan kehadiran partai lain yang berbasis pemilih yang sama," jelas Iskandarsyah.

Selain itu, kata Iskandarsyah, tidak terlaksananya konsolidasi yang baik 11 persen, permasalahan kepemimpinan menduduki presentasi 42 persen, munculnya partai politik baru yang berbasis pemilih sama 7 persen, kurang maksimalnya caleg partai 2 persen, kasus korupsi kader Golkar 9 persen, tingginya tingkat persaingan antar parpol terdapat 9 persen, tidak memiliki isue strategis 14 persen.

"Ada pun tidak adanya figur kader partai untuk mengusung capres-cawapres 4 persen, serta faktor lainnya mencapai 2 persen," katanya.

Tingkat kepuasan responden terhadap kepemimpinan Pusat terkait Partai Golkar, menurut ETOS Institute menyebut sejumlah faktor masalah di internal partai sehingga menyebabkan terjadinya penurunan tingkat kepercayaan terhadap partai.

"Sebanyak 58 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kepemimpinan pusat partai, 31 persen menyatakan puas dan 11 persen memilih tidak menjawab," terangnya.

Adapun responden dalam survei tersebut adalah seluruh warga negara Indonesia yang merupakan simpatisan, anggota dan fungsionaris Partai Golkar. Sampel yang digunakan adalah 1.000 responden. Berdasarkan jumlah sampel ini, diperkirakan margin of error sebesar sekitar 3 persen dengan tingkat kepercayaan 90 persen.

TAGS : Ketum Golkar Bambang Soesatyo Airlangga Hartarto




TERPOPULER :