Jum'at, 23/08/2019 20:24 WIB

PMI di Arab Saudi Merasa Percuma Lapor KBRI Riyadh

Apa yang dikatakan oknum al-mawarid seolah-olah benar adanya, bahwa nyawa dan hidup Ellisa dianggap tak berharga.

Ellisa, PMI asal Cianjur di Arab Saudi

Riyadh, Jurnas.com - Lagu dangdut berjudul "Kau Pembohong dan Kau Pendusta" yang dinyanyikan Oleh Imam S Arifin rasanya cukup tepat mewakili suasana hati Ellisa Nurhasanah, seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Riyadh, Arab Saudi.

Bagaimana tidak, hampir dua bulan Ellisa Nurhasanah mencari  perlindungan ke KBRI Riyadh. Namun perlindungan itu tak kunjung datang. Bahkan wanita asal Cianjur Jawa Barat ini merasa diabaikan oleh perwakilan pemerintah di Arab Saudi itu.

Entah sudah berapa kali ia mendengar jawaban "Besok majikan dan sarikahmu kami hubungi," ketika ibu satu anak ini menanyakan sampai dimana tindak lanjut kasus yang dihadapi.

"Saya menduga ada unsur keberpihakan oknum dengan Agency Al-Mawarid. Apalagi kasus saya jauh-jauh hari sudah diinformasikan, tapi tidak ada sama sekali tindakkan yang dilakukan untuk menyelamatkan," ujar Ellisa kepada Ahyar, koresponden jurnas.com di Arab Saudi, Selasa (2/7/2019).

Melihat itu semua, Ellisa mengaku pesimis, KBRI di Riyadh bisa membantunya. Baginya, apa yang dikatakan oknum al-mawarid seolah-olah benar adanya, bahwa nyawa dan hidupnya dianggap tak berharga.

"Safarahmu, tidak mampu berbuat apa-apa, Mereka diam, itu bisa menjadi fakta dan sering saya baca di media sosial bagaimana derita teman lainnya namun tak ditanggapi, tak lupa di kolom komentar sebuah postingan saya membaca komentar netizen mengatakan. Pemerintah seharusnya menempatkan dan menugaskan yang benar-benar  manusia.Bukan cuma berwajah manusia" ujar Ellisa geram.

Di tempat terpisah ketua Garda BMI Ahmad Iman mengatakan, seharusnya KBRI tanggap atas masaalah yang dihadapi Ellisa, karena menyangkut nyawa manusia.

"Fungsi diplomasi seharusnya dioptimalkan, bukan melihat status mereka," kata Ahmad Iman.

"Sangat disayangkan, jika belum terbitnya "PP" tentang perlindungan bagi Pekerja Migran dijadikan alasan keengganan KBRI menindaklanjuti masalah yang dihadapi PMI. Seharusnya di sini kita bicara soal nurani," ucap Ahmad Iman.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ahyar, Aktivis PMI Arab Saudi. Bahwa Informasi kasus Ellisa Nurhasanah dari kepala konsuler KBRI Riyadh mengatakan, akan dan segera. Tapi sampai hari ini Ellis belum dapat dilakukan.

Berhubung ada kesepakatan bersama anatara keduanya yang tertuang pada surat pernyataan, Ellisa bisa pulang setelah menjalani 3 bulan kontrak. Ia bisa kembali bekerja di luar setelah sempat diisolasi 23 hari. Bahkan uang dan perhiasan jadi jaminan pada agency.

"Tentu sesama PMI di luar negeri Saya sangat berharap pada pemerinah untuk secepatnya melakukan tidakkan, terlebih bersangkutan sering diancam, jangan sampai mendengar telah terjadinya penyiksaan mengakibatkan kematian baru bergerak," kata Ahyar.

"Tidak mungkinkan KBRI harus belajar ke KJRI Jeddah dalam hal penanganan kasus.Karena menurut saya KJRI sigap memberi pelayanan di wilayah kerja mereka," tuntas Ahyar.

TAGS : PMI KBRI Riyadh perlindungan pekerja




TERPOPULER :