Senin, 26/08/2019 02:48 WIB

Baru Genap Sebulan Sanksi Ekspor, AS Kembali Sanksi Petrokimia Iran

Washington menekan Iran karena program rudal nuklir dan balistiknya, dan mengobarkan perang proksi di negara-negara Timur Tengah lainnya.

Perusahaan Industri Petrokimia Teluk Persia (PGPIC). (Foto: Raheb Homavandi / Reuters)

Washington, Jurnas.com - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran yang menargetkan Perusahaan Industri Petrokimia Teluk Persia (PGPIC) atas dukungan keuangan Iran untuk Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC).

Bukan hanya itu, AS juga menjatuhi sanski jaringan holding group dari 39 anak perusahaan petrokimia dan agen penjualan yang berbasis di luar negeri.

Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, PGPIC dan anak perusahaannya memegang 40 persen dari kapasitas produksi petrokimia Iran dan bertanggung jawab atas 50 persen ekspor petrokimia Iran.

"Dengan memberlakukan sanksi jaringan ini kami bermaksud untuk memotong pendanaan elemen-elemen kunci dari sektor petrokimia Iran yang memberikan dukungan kepada IRGC," kata Mnuchin dalam sebuah pernyataan, Jumat (7/6).

Alasan lain Gedung Putih memberkukan sanksi itu, karena Iran menolak untuk mengadakan pembicaraan internasional yang lebih luas tentang ambisi nuklir dan militernya.

Washington menekan Iran karena program rudal nuklir dan balistiknya, dan mengobarkan perang proksi di negara-negara Timur Tengah lainnya.

Sanksi baru ini mengikuti putaran sanksi yang diberlakukan bulan lalu yang menargetkan pendapatan ekspor Iran dari logam industri.

Sejak bulan lalu, hubungan AS-Iran memburuk saat pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengerahkan kapal induk, pembom dan rudal Patriot ke Timur Tengah karena dugaan Iran sedang bersiap menyerang pasukan atau kepentingan AS.

Pentagon juga menuduh IRGC bertanggung jawab langsung atas serangan 12 Mei di lepas pantai Uni Emirat Arab yang merusak dua kapal tanker Arabl Saudi, satu kapal Emirati, dan satu kapal tanker Norwegia

TAGS : Iran Amerika Serikat Donald Trump Industri Petrokimia




TERPOPULER :