Sabtu, 24/08/2019 04:54 WIB

Basarah Sebut Pancasila Sebagai Idiologi yang Dinamis

Pancasila idiologi yang bisa berkembang mengikuti jamannya, sedangkan dasar falsafahnya tetap mengikiti maksud para pendiri bangsa yang menyepakati Pancasila

Ahmad Basarah

Jakarta, Jurnas.com - Wakil Sekjen DPP PDIP bidang Pemerintahan Ahmad Basarah mengatakan, Pancasila sebagai dasar negara adalah falsafah idiologis yang bersifat dinamis.

"Idiologi dinamis, maksudnya adalah Pancasila dapat berkembang mengikuti konteks jamannya," ujar Basarah dalam peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 1945 dan 1 Juni 2019 dengan tema Masa Depan Pancasila: Prospek dan Ancaman di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jl Diponegoro No.58 Menteng, Jakarta Pusat, Senin, 27 Mei 2019.

Acara itu dihadiri Sekjen PDI Perjuangan Ir. Hasto Kristiyanto, MM dengan MC Nico Siahaan. Sedangkan pesertanya adalah para tokoh lintas agama, ormas keagamaan, tokoh masyarakat, aktivis mahasiswa, dan organ sayap PDIP.

Kata Basarah, Pancasila sebagai idiologi dinamis tentu beda dengan idiologi terbuka maupun idiologi tertutup.

Sebuah idiologi tertutup cenderung dogmatif, tak ada saran, kritik ataupun usulan dari masyarakat. Pancasila pun bukan idiologi terbuka yang bisa ditafsirkan sesuka hati, ataupun menambah dan mengirangi maknanya.

"Tapi Pancasila idiologi yang bisa berkembang mengikuti jamannya, sedangkan dasar falsafahnya tetap mengikiti maksud para pendiri bangsa yang menyepakati Pancasila," jelas Basarah.

Ia mengingatkan, kesepakatan terhadap Pancasila melalui proses panjang, mulai dari sidang BPUPKI, berkembang dalam pembahasan panitia 8, berkembang lagi dalam panitia 9, lalu piagam Jakarta dan mencapai final pada Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

"Para pendiri bangsa kita menyepakati sila demi sila sebagaimana yang kita akui hingga detik ini," tegas Basarah.

Sementara itu, perwakilan dari Setara institute mengatakan bahwa pada masa Orde Baru, dilakukan penyeragaman makna Pancasila atas nama stabilitas demi kepentingan penguasa.

Kemudian hingga saat ini politik penyeragaman terus terjadi. Banyak upaya penyeragaman atas nama agama dan moralitas, dengan mudah menjudge pihak lain kafir, sesat, dan tak beragama.

Maka artikulasinya jelas. Ada 441 perda yang diskriminatif. 70 Regulasi daerah yang mempromosikan intoleransi, 500 lebih rumah ibadah dibakar, umat diganggu, dan ribuan kasus intoleransi.

"Ini PR bagi parlemen yang akan datang. Mendesain suatu rancangan intervensi. Agar Pancasila tak hanya urusan elit bangsa, tapi bagi warga negara dibincangkan tiap hari dan diteladani," tegas perwakilan Setara Institute.

TAGS : Ahmad Basarah Pancasila idiologi dinamis




TERPOPULER :