Kamis, 23/05/2019 18:33 WIB

Indonesia Surplus Beras Tahun 1984 Meski Ada Impor 414 Ribu Ton

Pada tahun 1984, dengan penduduk 164 juta jiwa dan kebutuhan beras 21 juta ton, saat itu Indonesia mendapat penghargaan dari FAO karena berhasil meraih swasembada pangan, meskipun saat itu ada impor beras sebanyak 414,3 ribu ton,

Beras (Foto: Supi/jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan), Bambang Sugiharto, menekankan, perlunya memperjelas lagi mengenai arti swasembada pangan sehingga tidak simpang-siur. Pasalnya, masih banyak pihak yang belum memahami arti swasembada.

Bambang menyebutkan berdasarkan ketetapan Lembaga Pertanian dan Pangan Dunia, Food and Agriculture (FAO) 1984, suatu negara dikatakan swasembada pangan jika produksinya mencapai 90 persen dari kebutuhan nasional.

"Ingat pada tahun 1984, dengan penduduk 164 juta jiwa dan kebutuhan beras 21 juta ton, saat itu Indonesia mendapat penghargaan dari FAO karena berhasil meraih swasembada pangan, meskipun saat itu ada impor beras sebanyak 414,3 ribu ton," jelas Bambang di Jakarta, Minggu (17/2).

Karenanya, Bambang, penting untuk membandingkan swasembada beras 1984 dengan capaian saat ini. Jumlah penduduk Indonesia 2018 sebanyak 264 juta jiwa membutuhkan beras 30 juta ton dan sudah dipenuhi dari produksi dalam negeri, bahkan data BPS menyebutkan pada 2018 terjadi surplus beras 2,8 juta ton.

"Ini artinya 2018 swasembada beras kita lebih mantap, surplus beras 2,8 juta ton," ujarnya.

Bambang menjelaskan, capaian swasembada ini terkonfirmasi dengan data sebelumnya, yakni Indonesia tidak impor beras medium sejak 2016-2017. Impor beras pada awal 2016 merupakan limpahan dari impor 2015.

Hebatnya lagi, lanjut Bambang, program pembangunan pertanian, antisipasi dini dan mitigasi iklim, Indonesia berhasil melewati iklim ekstrim El Nino 2015 dan La Nina 2016 secara berurutan yang merupakan fenomena iklim terberat sepanjang 71 tahun terakhir.

"Selanjutnya pada tahun 2018 realisasi impor beras 1,7 juta ton digunakan untuk berjaga-jaga, buktinya stock beras Bulog hingga akhir 2018 sebanyak 2,2 juta ton belum digunakan," terang Bambang

Kemudian, sebut Bambang, kemampuan cadangan beras pada 2019 siap mencukupi lebih dari 8 bulan ke depan. Yakni stock beras di Bulog tersedia 2,2 juta ton, stock di masyarakat 8 hingga 9 juta ton, pertanaman padi di lapang sampai Maret 2019 sebanyak 3,8 juta hektar setara dengan 10 juta ton beras.

"Ke depan, kemampuan mempertahankan swasembada ini tetap dijaga dan bahkan siap ekspor, seiring dengan semakin kokohnya infrastruktur pertanian yang telah dibangun selama empat tahun terakhir," ujarnya.

Mekanisasi besar-besaran alat dan mesin pertanian (alsintan) mencapai 423.197 unit, naik 1.526 persen dari 2013, rehabilitasi jaringan irigasi 3,58 juta hektar naik 331 persen dari 2013, dibangun 10.340 embung, damparit, longstorage dan 49 bendungan baru.

Dalam proses sedang dibangun 19.660 embung dan 16 bendungan baru, bahkan kini dibangun 500 ribu hektar sawah dari lahan rawa dan akan bertahap hingga 10 juta hektar.

"Selanjutnya berkaitan dengan jagung, dulu 2015 impor 3,5 juta ton setara Rp 10 triliun, terus impor jagung untuk pakan menurun dan 2017 tidak ada impor. Tahun 2018, malah surplus, karena impor jagung untuk pakan hanya 99 ribu ton, dan ekspor lebih dari 341 ribu ton. Impor gandum untuk pangan tidak ada hubungannya dengan untuk pakan," jelas Bambang

TAGS : Surplus Beras Swasembada Beras Kementerian Pertanian




TERPOPULER :