Minggu, 26/05/2019 06:29 WIB

Komitmen Kurangi 70 Persen Sampah Plastik di Laut

Persoalan sampah menjadi isu serius yang harus dihadapi dunia saat ini termasuk di Indonesia.

Ilustrasi sampah plastik (foto:UPI)

Jakarta - Dengan peran aktif masyarakat untuk mengelola sampah plastiknya dengan benar dapat menjadi sebuah langkah awal untuk terbentuknya pendekatan sirkular ekonomi.

Pakar lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) Emenda Sembiring menjelaskan bahwa plastik merupakan material yang tidak lepas dari kehidupan kita karena sifatnya yang dapat mudah dibentuk sesuai dengan keinginan, tahan air, awet, praktis dan dapat melindungi isi dengan baik (proteksi). Namun, dibalik manfaat tersebut, plastik dapat mengakibatkan ancaman polusi apabila tidak dikelola dan dibiarkan ke lingkungan.

Emenda memaparkan, masyarakat juga dapat berkontribusi dalam mengatasi permasalahan sampah plastik. Pengurangan masalah sampah plastik bisa dimulai dari lingkungan terkecil seperti rumah tangga hingga lingkungan berskala besar meliputi kawasan kota yang dikelola oleh pemerintahan atau bahkan sektor industri.

"Contoh kecil yang bisa dilakukan dari lingkup rumah tangga ialah dengan melakukan pemilahan sampah plastik agar memudahkan pemulung untuk mengambilnya sehingga mengurangi angka plastik yang terbuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA)," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, sampah menjadi isu serius yang harus dihadapi dunia saat ini, termasuk Indonesia. Bahkan, persoalan sampah turut mengancam ekosistem di laut. World Economic Forum pada 2016 menyatakan ada lebih dari 150 juta ton plastik di samudra. Sedangkan sebanyak 8 juta ton sampah plastik mengalir ke laut setiap tahunnya dan membahayakan lebih dari 800 spesies.

Merespon kondisi tersebut, Pemerintah Republik Indonesia berkomitmen untuk dapat mengurangi sampah plastik di laut sebanyak 70 persen pada tahun 2025. Sebagai bentuk dukungan terhadap visi tersebut, pihak Danone berinisiatif dalam mengembangkan model ekonomi sirkular sebagai bentuk kontribusi menyelesaikan permasalahan sampah di Indonesia. Komitmen tersebut telah dimulai sejak 1993 melalui program Aqua Peduli.

Model ekonomi sirkular (Circular Economy/ CE) merupakan penerapan teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas pemakaian sumber daya. CE menjadi alternatif ekonomi linier tradisional (membuat, menggunakan, membuang) dengan menyimpan sumber daya yang digunakan selama mungkin, mengekstrak sumber daya tersebut, kemudian memulihkan dan meregenerasinya.

Danone-Aqua menerapkan CE dengan menjadikan kemasan plastiknya sebagai sumber daya atau bahan baku yang dapat digunakan selama mungkin. Bagaimanapun, meski memiliki konsekuensi yang tak diinginkan, namun kemasan plastik adalah hal yang tak terhindarkan dari kehidupan. Namun, dengan dukungan inovasi teknologi, dampak buruk kemasan plastik dapat dihindari. Melalui prinsip daur ulang dan penerapan CE, sampah plastik dapat menjadi barang baru bernilai ekonomi.

Sustainable Development Director Danone- Indonesia Karyanto Wibowo menjelaskan pihaknya telah mulai untuk melakukan pengelolaan sampah plastik sejak 1993 dengan program mengembangkan program PEDULI.

"Program ini kemudian memelopori perkembangan industri daur ulang di Indonesia. Kami kemudian semakin menguatkan komitmen untuk pengelolaan sampah plastik dengan meluncurkan Gerakan #BijakBerplastik di tahun ini," jelas Karyanto.

Berbagai inisiatif tersebut merupakan bagian dari gerakan #BijakBerplastik yang di luncurkan oleh Danone-Aqua. Dalam gerakan #BijakBerplastik, ini, Danone-Aqua menginisiasi kolaborasi kepada seluruh pihak untuk melakukan upaya edukasi, pengumpulan infrastruktur pengumpulan sampah plastik dan inovasi produk.

Fokus tindakannya pada tiga aspek inti, yaitu (1) inovasi produk, (2) pendidikan konsumen dan (3) pengembangan infrastruktur pengumpulan limbah. Saat ini, semua botol adalah 100 persen (semua kemasan 98 persen) dapat didaur ulang dan baru saja meluncurkan botol dengan menggunakan kemasan 100 perseb PET daur ulang (100 persen rPET).”

Memahami Siklus Daur Ulang Sampah Plastik

Danone-Aqua bersama sejumlah Influencer dan media mengeksplorasi siklus daur ulang sampah plastik dalam acara yang bertajuk Circularity Tour yang digelar pada 18 -19 Desember 2018.

Dalam acara ini, peserta mengunjungi berbagai lokasi untuk melihat langsung eksplorasi berbagai inovasi yang dapat dilakukan dalamuntuk melakukan pengelolaan sampah plastik. Circularity Tour bertujuan untuk menyelaraskan perspektif antara para pemangku kepentingan dalam memahami isu pengelolaan sampah plastik dan pentingnya kolaborasi lintas sektoral.

Kunjungan dimulai dengan mengunjungi Smart Drop Box (SDB) dan Bank Sampah di wilayah Kasablanka, Jakarta Selatan. Dalam kunjungan ini, peserta melihat SDB yang merupakan tempat sampah pintar hasil kerjasama.

SDB ini, yang dilengkapi sistem pemindai barcode botol plastik dan terhubung dengan mySmash, yaitu aplikasi yang membantu penggunanya SDB untuk mencatatkan sampah botol yang dikumpulkan dan mendapatkan imbalan poin yang dapat digunakan sebagai pembayaran online.

Selanjutnya peserta mengunjungi Recycle Bussiness Unit (RBU) di Tangerang yang diinisiasi telah didampingi sejak 2010 untuk memahami lebih dalam mengenai proses daur ulang.

Saat ini, RBU mempekerjakan 4037 pegawai di mana 60 persen adalah perempuan. RBU ini telah menghasilkan cacahan plastik sebanyak 90 ton/bulan dari 100 ton botol plastik yang dikumpulkan dari lapak dan bank sampah di Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Pulau Untung Jawa Kepulauan Seribu, Bogor, dan juga Bekasi. Bersama dengan RBU di Bandung, Bali, dan Lombok yang dibangun oleh mitra keseluruhan RBU di empat kota ini menghasilkan 12.000 Ton plastik cacahan per tahun.

Menutup kegiatan, peserta juga mengunjungi pabrik Danone-Aqua di Babakan Pari dan Legos. Kunjungan ini menunjukkan komitmen Danone-AQUA dalam mengimplementasikan Reduce, Reuse dan Recycle dalam penggunaan plastikgunakan produk yang dapat digunakan kembali.

TAGS : Sampah Plastik Sirkular Ekonomi




TERPOPULER :