Sabtu, 23/11/2019 06:56 WIB

Memupuk Tekad di Tanah Perbatasan

Pertama kali menjejakkan kaki di Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), Tri galau. Sepi. Gelap. Jauh dari hingar-bingar manusia dan kendaraan yang biasa dia temui di Malang.

Tri Lestari (Foto: Muti/Jurnas)

Jakarta, Jurnas.com – Jika ditanya pilihan paling berat yang harus dilalui Tri sepanjang hidupnya, mungkin keputusannya meninggalkan Kota Malang, Jawa Timur adalah jawabannya.

Pada 2011 silam, perempuan bernama lengkap Tri Lestari Rahmawati ini dengan berat hati harus berpisah dari kota kelahirannya, setelah sang suami mengajaknya merantau ke Tarakan, sebuah kabupaten yang berada di dekat perbatasan Indonesia-Malaysia.

Pertama kali menjejakkan kaki di Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), Tri galau. Sepi. Gelap. Jauh dari hingar-bingar manusia dan kendaraan yang biasa dia temui di Malang.

“Di sini sepi, masih banyak hutan. Dulu waktu baru sampai dari Malang ke sini, selama seminggu saya enggak betah itu di Tarakan,” tutur Tri saat ditemui Jurnas.com beberapa waktu lalu di Tarakan, dalam sebuah kegiatan press tour Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Tak hanya itu, Tri sempat mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang tergolong mahal di Tarakan. Dia menceritakan, hanya untuk membeli seikat wortel, Tri harus mengeluarkan gocek sebesar Rp6.000.

“Apa-apa mahal di sini. Rumah mahal, makan mahal. Satu kali makan bisa Rp30 ribu untuk satu porsi,” ujarnya. Padahal, kata Tri, harga satu porsi makanan di Malang cuma Rp15 ribu.

Tri enggan berlama-lama meratapi keadaan. Belum genap satu bulan di Tarakan, perempuan kelahiran 23 Maret 1978 ini kembali ke Malang untuk mengambil Akta IV, dengan tujuan agar bisa mengajar. Keputusannya direstui sang suami.

Dua tahun menempuh Akta IV, Tri kembali lagi ke Tarakan pada 2013. Berkat perkenalannya dengan seorang kepala sekolah, ia ditawari mengajar di sebuah PAUD.

Tri mengakui, enam bulan pertama sebagai guru, dia merasa kesulitan. Sempat frustasi karena setiap hari harus menghadapi anak didiknya yang nakal, menggendong mereka saat menangis, hingga membersihkan kotoran ketika mereka buang hajat di dalam kelas.

Tri juga merasa tak punya keahlian sebagai guru. Pasalnya, dia merupakan lulusan ekonomi, bukan pendidikan. Bahkan cita-cita Tri selepas lulus kuliah, ingin bekerja di kantoran, layak perempuan karir yang sibuk di belakang komputer.

“Dulu saya pengen jadi orang kantoran aja, pakai blazer, biar keren, ngadepin komputer, di bawah AC,” katanya.

Kini, lima tahun sudah Tri melakoni pekerjaannya. Mengajar anak-anak di PAUD perlahan-lahan membuatnya terhibur. Di tengah keterbatasan fasilitas di perbatasan, tak ada sedikitpun keinginan untuk meninggalkan beranda Indonesia tersebut.

“Saya mencoba mensyukuri jalan hidup yang ditentukan oleh Allah, saya mulai mencintai anak-anak saya, yang pada awalnya tidak terlalu memperhatikan, tapi mulai terbiasa sekarang dan menerima,” lirihnya.

Hidup di perbatasan juga tak menghalangi Tri Lestari untuk berprestasi di tingkat nasional. Pada 2016 lalu, dia menyabet rangking pertama kategori Guru Kelompok Bermain Berprestasi anugerah `Guru Berprestasi` dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemdikbud, karena berhasil menciptakan alat peraga yang berfungsi menjernihkan air kotor, yang diambil dari sungai-sungai Tarakan dan sekitarnya.

Saat ditanya soal alat peraganya, Tri menceritakan, ide awal membuat alat penyaring air kotor bermula ketika dia menyempatkan diri mampir di sebuah warung pisang goreng, sepulang dari mengajar. Tri lantas bertanya air apa yang digunakan oleh si pemilik warung untuk mencuci pisang-pisang tersebut.

“Air PAM kalau untuk masak saja. Kalau mencuci begini pakai air sungai,” kata Tri menirukan jawaban pemilik warung.

Dia pun kaget. Pasalnya, sungai-sungai yang berada di Tarakan tergolong kotor dan keruh. Dia beranggapan, jika kebiasaan ini diteruskan, maka tentu akan menimbulkan berbagai macam penyakit.

“Akhirnya saya coba beli dan mencari alat seadanya. Saya bikin sendiri. Dan jadilah alat peraga ini,” jelas Tri sambil menunjukkan alat peraganya.

TAGS : Guru Berprestasi Perbatasan Indonesia




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :