Minggu, 15/09/2019 17:03 WIB

Wawancara

Rommy Fibri: Film Asing Sering Tampilkan Adegan Pornografi

Saat ini LSF mengedepankan aspek dialog dalam  melakukan proses penyensoran.

Juru Bicara Lembaga Sensor Film Indonesia, Rommy Fibri (Foto: Dokpri Facebook)

Jurnas.com - Perfilman di Indonesia kian mendapat tempat perhatian dari penonton. Walau masih sulit untuk bisa bersaing dengan film-film asing yang masuk di Indonesia. Dan yang menariknya, genre yang digandrungin juga mulai seragam. Seperti genre komedian dengan hadirnya Warkop DKI, Film horor Susanna, dan genre kedaerahnya dengan “Laskar Pelangi.

Dari film-film laku itu, sudah pasti banyak film-film lainnya yang tayang walau nasibnya berbeda. Dan pasti, bukan perkara mudah bagi Lembaga Sensor Film (LSF) untuk mensortir film-film yang memang layak dipertontonkan. Berikut wawancara dengan Rommy Fibri, Anggota dan Juru Bicara Lembaga Sensor Film (LSF) :


Menurut Anda, dinamika film Indonesia saat ini bagaimana?
Film nasional saat ini menunjukkan geliat yang luar biasa. Selain kuantitas yang meningkat, kualitas film-film garapan produser dan sutradara Indonesia sangat bagus dan menarik. Capaian positif tersebut bukan hanya dari sisi tema cerita dan keragaman genre, melainkan juga kecanggihan aspek sinematografinya.

Dari sisi publik, film-film Indonesia sudah  banyak yang masuk box office dengan menggaet jutaan penonton. Dalam kurun 2 tahun terakhir, beberapa film semisal Warkop DKI Reborn, Dilan 1990, Pengabdi Setan, AADC 2, Ayat-ayat Cinta 2, maupun My Stupid Boss,  mampu bertengger di posisi 10 besar film dengan  kisaran 2,8 juta  hingga 6,9 juta  penonton.

Genrenya pun sangat beragam, mulai dari komedi, drama romantis hingga horor. Melihat perkembangan yg sangat positif ini, saya optimis film nasional sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Bagaimana dengan pergulatannya antara film Indonesia dan asing?
Tidak ada masalah antara film nasional dan film asing. Semua memiliki pangsanya masing-masing. Sejauh ini film Indonesia sudah menempati posisi tersendiri di hati pemirsa dan pecinta film nasional. Hal ini dapat  dilihat dari jumlah perolehan penontonnya.

Seperti misalnya film Suzanna Bernafas dalam Kubur, dalam 10 hari saja sudah mencapai sekitar 2,3 juta penonton, dan diperkirakan masih  akan terus bertambah. Bahkan film drama remaja Dilan 1990 meraup 6,3 juta  lebih penonton, apalagi Warkop DKI Reborn Part 1 yg penontonnya hampir mencapai 6.9 juta.

Jadi dari sisi ini, saya yakin dan percaya film Indonesia sudah  benar-benar dalam  kondisi yang siap bersaing dengan  film asing. Adapun film-film  asing, paling hanya yang benar-benar bagus dan kategori box office dan  meraup jumlah penonton banyak. Sisanya juga tak jauh beda dengan film-film lain.

Berapa banyak yang LSF sudah Sortir atau potong adegan? Kenapa harus disortir? Bisa diberikan contoh mungkin film yang adegannya banyak di sortir BSF?
Secara umum dapat  dikatakan bhw LSF saat ini sudah  tidak seperti dulu, yang  dengan mudah dan segera langsung menggunting sendiri adegan film yang disensorkan. Saat ini LSF mengedepankan aspek dialog dalam  melakukan proses penyensoran.

Jika dirasa ada adegan yang dapat menimbulkan keresahan publik, maka LSF memberi catatan dan memberikannya kepada pemilik film. Berikutnya pemilik film dapat mengajukan dialog atas catatan LSF tersebut, dan sebaliknya LSF dapat mengundang pemilik film untuk berdialog dan berusaha memahami apa yang  disampaikan dalam  adegan tersebut.

Pernah ada film yang disensor penuh pada 2 tahun terakhir, film indonesia atau asing?
Tidak ada.

Film Indonesia atau Asing yang paling banyak kena sensor? Biasanya diadegan apa sampai harus kena sensor?
Selama ini yang menempati porsi terbesar dalam hal revisi adalah aspek pornografi. Kebanyakan film-film  asing masih sangat sering menampilkan adegan-adegan yang mengandung unsur pornografi. Atas hal ini, tentu tidak ada pilihan lain bagi LSF selain meminta pemilik filmnya untuk  melakukan revisi.

Dapat dipahami bahwa menurut UU no 44/2098 tentang Pornografi,  hal-hal yang sifatnya kecabulan dan eksploitasi seksual tidak  dapat  dipertontonkan di muka umum. Seperti  misalnya film A Star is Born, ada adegan yang direvisi karena  menampilkan visual ketelanjangan yang sangat vulgar.

Ada pula film-film lain dengan persoalan serupa. Untuk film-film  Indonesia, jarang yang mengalami kasus serupa. Karena  hingga saat ini, produser dan sutradara film kita sangat memahami aspek sosial dan budaya masyarakat Indonesia, sehingga tak satupun film Indonesia yang menampilkan unsur ketelanjangan secara vulgar.

Oleh karena itu LSF patut menyampaikan apresiasi yg sebesar-besarnya nya kepada produser dan sutradara film nasional karena  hal tersebut.

Bagaimana pengawasan LSF terhadap film-film yang tayang online?
Hingga kini LSF masih fokus utk menyensor film-film yang akan diputar di Bioskop, TV, Festival dan DVD. Keempat medium inilah yang benar-benar menjadi domain LSF secara kelembagaan. Adapun tayangan film online, tentu LSF tidak sendirian, karena hal itu juga  menjadi domain kemenkominfo. Karena itu LSF sedang mencari jalan keluar terbaik atas persoalan tersebut.


TAGS : Wawancara Tokoh Rommy Fibri Lembaga Sensor Film




TERPOPULER :