Rabu, 12/12/2018 15:30 WIB

Mengintip Teknologi Augmented Reality di STAFair 2018

STAFair 2018 ingin menggaet perhatian kaum milenial dengan pameran yang mengusung teknologi terkini Augmented Reality (AR), untuk kali pertama.

Teknologi AR di STAFair 2018

Jakarta – Ada pemandangan tak biasa pada pameran Science, Technology and Art Fair (STAFair) 2018 di Gedung Filateli, Jakarta. Pengunjung yang datang tidak bisa menikmati hasil teknologi tepat guna secara fisik layaknya pameran pada umumnya.

Sekitar 50 meter dari pintu masuk, tumpukan kerangka berbentuk kotak memenuhi kedua sudut gedung yang berlokasi di Jalan Pos No. 2 Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Baru, Jakarta Pusat ini. Sementara di tengah pameran terpampang layar pertunjukan yang sengaja dibuat melingkar.

Desain unik ini bukan tanpa alasan. Menurut Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan (Kemristekdikti) Muhammad Dimyati, STAFair 2018 ingin menggaet perhatian kaum milenial dengan pameran yang mengusung teknologi terkini Augmented Reality (AR), untuk kali pertama.

“Ini salah satu cara saja. Kami coba cek dan tes anak muda yang senang menggunakan sosmed dengan wahana ini, apakah trennya naik. Kalau iya, berarti anak muda itu perlu dengan cara-cara seperti ini,” kata Dimyati kepada awak media pada Rabu (14/11) di Jakarta.

Untuk mengakses konten pameran, pengunjung hanya perlu berbekal ponsel yang sudah dipasangi aplikasi Assemblr. Lalu, dengan mengarahkan kamera ponsel ke arah papan berisi marker AR, pengunjung bisa menyaksikan objek hasil penelitian berbentuk tiga dimensi.

Hanya ada lima hasil penelitian yang bisa disaksikan oleh pengunjung lewat ponsel mereka. Kelima penelitian tersebut mulai dari teknologi energi angin, reservoir, hingga desalinasi air bersih.

Dimyati mengatakan, hasil penelitian yang dipamerkan memang masih terbatas. Selain karena ini merupakan tahap awal untuk mengenalkan generasi milenial terhadap inovasi riset, juga mengevaluasi ketertarikan pengunjung terhadap teknologi AR untuk pameran selanjutnya.

Berbekal pengalaman sebelumnya, lanjut Dimyati, kaum milenial cenderung kurang tertarik dengan hasil inovasi riset. Alasannya sederhana, bahasa publikasi para peneliti terlalu sulit dimengerti oleh masyarakat di luar komunitas peneliti.

“Peneliti tidak bisa menulis di majalah atau koran. Sehingga cara ini bisa jadi cara untuk menyampaikan hasil riset pada masyarakat,” terangnya.

Di akhir, Dimyati menyebut STAFair 2018 menyasar pelajar di seluruh segmen, baik siswa SD hingga mahasiswa. Diharapkan dengan adanya pameran berteknologi AR tersebut, bisa menjadi opsi bagi sistem pengajaran yang selama ini masih berorientasi text book.

TAGS : STAFair 2018 Teknologi AR Muhammad Dimyati




TERPOPULER :