Minggu, 17/11/2019 17:46 WIB

Strategi Kemnaker Jawab Tantangan Industri 4.0

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengambil tiga langkah strategis untuk menjawab tantangan dan mengoptimalkan peluang di era Industri 4.0. 

Tiga langkah strategis Kemnaker hadapi revolusi industri 4.0

Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengambil tiga langkah strategis untuk menjawab tantangan dan mengoptimalkan peluang di era Industri 4.0. Tiga langkah tersebut dilakukan dengan cara meningkatkan link and match, masifikasi pelatihan kerja dan sertifikasi profesi, dan penanaman transversal skill (soft skill) dan entrepreneurship.

Hal itu disampaikan Direktur Persyaratan Kerja, S. Junaedah saat mewakili Menteri Ketenagakerjaan RI pada agenda Munas ke-1 Persaudaraan Dosen Republik Indonesia bertajuk di Gedung Nusantara 1 DPR RI, Jakarta, Jumat (26/10/2018).

"Terkait link and match ini merupakan upaya pemerintah untuk memastikan kompetensi SDM kita sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dengan industri yang berbasis teknologi digital," ujar Junaedah.

Untuk mewujudkan hal terebut, lanjut Junaedah Kemnaker terus bersinergi dengan komite vokasi nasional yang merupakan wadah kolaborasi antara pemerintah dan industri.

Bersama komite vokasi nasional, Kemnaker memetakan transformasi industri, penyiapan pekerjaan serta keterampilan masa depan, dan perencanaan tenaga kerja dengan para pelaku usaha dan industri di masing-masing sektor prioritas.

"Rumusan yang dihasilkan dari kegiatan ini dapat menjadi masukan dan pijakan dalam melakukan perancangan program pelatihan," katanya.

Junaedah mengungkapkan, perancangan program pelatihan tersebut meliputi perancangan program dan design kurikulum dan standard pelatihan, penyelengaraan pelatihan kerja dan pemagangan. Sehingga output yang dihasilkan lembaga pelatihan kerja relevan dengan kebutuhan dunia industri.

Kedua, imbuh Junaeda, pemerintah juga memasifkan pelatihan kerja dan sertifikasi profesi. Strategi ini dibingkai dalam kebijakan triple skilling, yaitu skilling, up-skilling, dan re-skilling.

"Ketiga kebijakan ini penting untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan tenaga kerja terampil saat ini dan di masa yang akan datang," papar Junaedah.

Selain itu pemerintah juga membekali SDM indonesia dengan soft skill, entrepreneurship dan digital skill. Laporan World Economic Forum menunjukkan 80 persen skill yang diperlukan tenaga kerja untuk bisa bersaing dalam era revolusi industri 4.0 merupakan penguasaan softskill.

"Di antara 10 skill utama yang diperlukan saat ini, 3 yang teratas adalah complex problem solving, critical thinking dan creativity," pungkas Junaedah.

TAGS : Kementerian Ketenagakerjaan Revolusi Industri




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :