Rabu, 05/08/2020 03:29 WIB

Harga Minyak Sawit Masih Memprihatinkan

Peningkatan impor CPO dibukukan oleh Tiongkok sebesar 26 persen, Amerika Serikat 64 persen,  negara- negara Afrika 19 persen dan Pakistan 7 persen.

Kelapa sawit (Foto: Tribunnews)

Jakarta  -  Harga minyak kelapa sawit masih di titik terlemah. Padalal  volume ekspor komoditas itu per Agustus berhasil membukukan rekor tertinggi tahun ini, yaitu 3,3 juta ton atau naik dua persen dibanding Juli.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono mengatakan pembelian tertinggi dicatatkan oleh India sebanyak 823 ribu ton atau meningkat 26 persen dibanding bulan lalu.

"Ini volume perdagangan sawit Indonesia dengan India yang tertinggi sepanjang sejarah," ujar Mukti di Jakarta, Jumat (5/9).

Peningkatan impor CPO dibukukan oleh Tiongkok sebesar 26 persen, Amerika Serikat 64 persen,  negara- negara Afrika 19 persen dan Pakistan tujuh persen.

Menurut Mukti, perselisihan dagang Amerika Serikat dan India memberikan peluang Indonesia untuk memasok minyak nabati pengganti minyak kedelai.

Juni lalu, India menaikkan bea masuk crude and refined kedelai, bunga matahari kacang tanah dan rapeseed masing-masing 35 persen untuk refined produk dan 45 persen untuk crude grade.

"Permintaan tinggi ini belum mengerek harga CPO. Justru harga yang sedang rendah ini dimanfaatkan trader untuk membeli sebanyak-banyaknya," ujar Mukti.

Harga CPO pada di Bursa Derivatif Malaysia saat ini berada pada level MYR 2.227 per ton pada perdagangan hari ini Kamis. Harga CPO pernah mencapai MYR 3.623 atau setara USD1.179 per metrik ton.

Sepanjang Agustus ini, harga bergerak pada kisaran USD542,5-577,50 per metrik ton.  Ini merupakan harga terendah yang dibukukan sejak Januari 2016.

"Harga CPO ini terus tertekan karena harga minyak nabati lain yang sedang jatuh, khususnya kedelai. Selain itu, stok sawit juga masih melimpah di Indonesia dan Malaysia," ujar Mukti.

Penurunan impor CPO dicatatkan di negara-negara Uni Eropa yang turun cukup dalam hingga 10 persen diikuti Bangladesh yang turun hingga 62 persen. Uni Eropa menahan impor karena masih kebanjiran stok minyak rapeseed dan bunga matahari.

Sedangkan Bangladesh saat ini masih menumpuk stok CPO setelah mengimpor cukup tinggi bulan lalu.

Meski ekspor Agustus naik, secara tahunan kinerjanya justru mengalami penurunan dua persen. Dari 20,43 juta ton pada Januari-Agustus 2017 menjadi hanya 19,96 juta ton pada periode yang sama tahun ini.

Dari sisi produksi, menurut Mukti sepanjang Agustus mencapai empat  juta ton atau turun lima persen dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 4,28 juta. Penurunan ini terjadi karena faktor iklim dan pola produksi bulanan yang menyebabkan petani tidak memanen dengan maksimal karena harga sedang rendah.

Tumpukan stok sawit ini sebelumnya diharapkan bisa berkurang dengan implementasi kewajiban kandungan B20. Namun ternyata belum bisa mengurangi stok secara signifikan.

"Jika ada akselerasi program B20 pada sektor non Public Service Obligation (PSO) kami yakin bisa menyerap CPO dalam negeri secara signifikan," terang Mukti. (aa)

 

TAGS : CPO minyak sawit Gapki Mukti Sardjono




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :