Minggu, 23/09/2018 15:04 WIB

Sembilu Gunung Es Depresi (1)

Tak banyak perempuan yang berani bilang bahwa ia mengalami depresi, grup Mother Hope Indonesia ada untuk menerima.

Depresi yang dialami perempuan paska-melahirkan masih serupa gunung es (Foto: Ilustrasi)

 “Saya ingin para ibu yang mengalami hal yang serupa tidak merasa sendirian, tidak menganggap diri sebagai ibu yang jahat, buruk, kurang beriman atau hal-hal mistis seperti kemasukan Jin” (Nur Yanayirah, Penyintas Post Partum Depression)

Masih ingatkah Anda? Kasus mutilasi yang dilakukan seorang ibu kepada anaknya di Cengkareng Minggu (2/10/2017) lalu yang mengejutkan publik termasuk para ibu.

Belum hilang ingatan kita akan peristiwa seorang ibu membunuh ketiga anaknya di Bandung. Hal tersebut ternyata dipicu oleh gangguan depresi pada sang ibu akibat luka masa kecil karena sering dibandingkan di keluarganya.

Salah seorang relawan Mother Hope Indonesia -Grup yang concern pada masalah PPD- Ayas Ayuningtyas mengatakan bahwa setiap orang berpotensi mengalami depresi.

“Kasus-kasus yang menimpa ibu yang terkna depresi  disebutkan jika pelaku ibu yang bunuh diri lalu membunuh anaknya sebagai seorang pendiam jadi ibu tersebut memendam perasaan, manusia butuh mengeluarkan perasaan pada orang terdekat, misalnya suami,” ujarnya.

Lantas, lanjut Ayas bagaimana pola komunikasi antara suami istri dalam kasus ini. “Jika Ingat kasus Andrea yang membunuh 5 orang anaknya? Awalnya depresi dimulai karena dia dibatasi oleh suami, tidak bisa bergaul bebas , cenderung dikondisikan untuk mengikuti keinginan suami). Andrea tidak bisa menyuarakan perasaannya ditambah lagi rasa lelah,” urainya.

Ayas menambahkan depresi level akut menyebabkan halusinasi dan orangnya mendengarkan suara-suara yang tidak ada tubuh, salah satunya mendengarkan suara-suara yang tak berwujud atau tak nyata.

“Bukan kerasukan, bukan tanda iman lemah, hanya pikirannya tidak sanggup menahan beban pikiran. Mereka perlu pertolongan, bukan penghakiman” tandasnya.

Depresi ialah sebuah gangguan jiwa yang ditandai dengan rasa sedih yang berkepanjangan dan kehilangan minat terhadap kegiatan-kegiatan yang biasanya kita lakukan dengan senang hati. Tanda berikutnya adalah berhenti menjalankan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari setidaknya selama dua minggu.

Mereka yang mengalami depresi biasanya memiliki beberapa gejala seperti, kehilangan energi, perubahan nafsu makan, gangguan tidur (bisa berlebihan, bisa juga kurang dari lama tidur biasanya), cemas, menurunnya kemampuan berkonsentrasi, ketidakmampuan membuat keputusan, rasa tidak tenang, perasaan tidak berguna, bersalah atau putus asa, dan pikiran-pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.

Banyak yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kejadian serupa, salah satunya adalah dengan mencoba aware pada lingkungan sekitar, bergabung dengan komunitas yang concern pada persoalan ibu khususnya ibu yang baru saja melahirkan dan rentan terkena PPD.

Salah satu supporting group atau grup pendukung  yang bisa ditemui di laman Facebook bertajuk Peduli Kesehatan Jiwa Ibu Perinatal  Indonesia yang kini telah berganti nama menjadi Mother Hope Indonesia (MHI). Tak banyak psikolog yang concern mempelajari bahkan sampai turun mendampingi para perempuan dengan depresi setelah melahirkan.

Salah satu psikologi relawan yang hingga kini masih hadir mendampingi para anggota yang tiap hari silih berganti datang ialah Nuzulia Rahma. Cerita bermula di tahun 2015 sekitar 11 tahun lalu Lia (panggilan Nuzulia) muda mencari informasi mengenai baby blues dan depresi paska-melahirkan, karena pas dengan momen anak pertamanya lahir.

Sayangnya, informasi yang didapatkan sedikit sekali, bahkan sebuah buku hanya menemukan satu halaman. “Akhirnya pas ada kesempatan ke luar negeri, saya mencari di luar banyak buku dengan materi yang saya cari, di sana lengkap,” ujar ibu dua anak ini.

Langkah Lia seperti menemukan jalannya, pada 2014 akhir ia bertemu dengan Yana.  Zaman segitu masih belum ada grup di Facebook . “Dari pertemuan ini kami banyk ngobrol dan ternyata punya visi misi yang sama, passion yang sama tentang baby blues dan post partum. Ia juga yang pertama kali wawancara saya soal tema yang sedang saya pelajari,” ujarnya.

“Pertama kali juga Yana mewawancarai baby blues dan PPD lalu selang beberapa waktu kemudian ia membuat Grup di facebook bersama saya juga. Kami tak hanya berdua, ada Rachma yang juga turut bergabung karena memiliki minat yang sama. Kebetulan saya banyak
mengisi psiko-edukasi,” lanjut Lia.

Awalnya ia belum ada gambaran seperti apa mekanisme sharing melalui di grup, ternyata bisa dengan banyak cara, mulai direkam, diperdengarkan bersama para admin. “Karena jumlah member grup belum banyak kita masih bisa buat pertemuan kecil di sebuah resto,” ungkap Lia.

Lia dan Yana banyak sharing mengenai masa kecemasan kehamilan dan psikoedukasi ke bidan. Dari situ semakin banyak kegiatan, dan mulai banyak ibu-ibu yang bergabung.

“Tujuan kami bukan mendiagnosa, hanya memberikan edukasi dan membantu untuk para ibu yang sedang hamil dan paska-melahirkan. Biasanya baby blues atau depresi muncul saat punya anak pertama, meski di beberapa case juga ada yang menimpa saat lahir anak kedua dan seterusnya,” tutur pecinta traveling ini.

Mereka Ada untuk Menerima

Secara umum, MHI komunitas yang membantu memfasilitasi antara member atau masyarakat dengan para ahli, baik psikolog atau psikiater. MHI tidak menangani secara langsung masalahnya tetapi membantu merekomendasikan, mengantar mereka pada ahli yang sesuai dengan kebutuhan member. Tetap segala keputusan ada pada member, apakah mereka tetap menjalani prosesnya atau berhenti pada titik ia mengenal MHI.

Pasien yang tertangani itu ada yang sudah pulih ada yang belum. Jika di-rerata seminggu empat kali yang terfasilitasi, pendampingan aktif selama 6 bulan. Seminggu ada 4 kali dengan 4 orang kali 4 ada 16 orang, sekira ada 100 orang untuk 1 pendampingan. Total sekitar 700 member yang terdampingi, yang mau speak-up atau berani bicara mengapa ia mau didampingi.

“Gambarannya seperti ini, masalah-masalah yang difasilitasi MHI, awalnya kita tampung, lalu masalah yang sudah kita  listing diarahkan ke psikolog atau konselor ditangani. Setelah masuk pada ahli banyak member yang akhirnya bisa pulih, bisa bangkit dan bisa berdaya guna untuk dirinya sendiri,” papar Lia.

Setelah diarahkan, mereka datang ke ahli yang tidak memahami lalu mereka di arahkan untuk untuk mencari. Misalnya dalam kondisi genting, mencari yang terdekat untuk bisa menolong.  Ada kasus di Papua sempat mau datang, karena di sana tidak menemukan. Di jayapura dan kalimantan, ada ahli di sana tapi tidak bisa datang. Kalau saya tidak bisa banyak. Proses jarak jauh, terapi yang dilakukan
terbatas.
 
Lia dan tim di MHI tidak bisa memungkiri, bahwa kalau menangani masalah kesehatan mental ini soal proses, tergantung pada individu ini sendiri. Seberapa kuat mereka mau mencari informasi, rutin terapi, dan menjalani tahap demi tahapnya. Kadang prosesnya lama, karena susah menemukan jadwal yang sesuai.

“Saya secara pribadi harus ketemu, misalnya jika ada member ada yang mau bunuh diri, tapi begitu konsultasi rutin, sebetulnya ibu ini sangat kuat untuk pulih mencari informasi, apa yang saya minta dia lakukan. Akhirnya informasi dari dia tidak punya keinginan bunuh diri, bahkan bisa berdaya guna untuk keluarga,” ujarnya.

Meski demikian kalau jadwal tidak cocok kita rajin menghubungi juga. Yang seperti ini jarang, ada juga yang datang terapi, datang menangis, kemudian hidup merasa berwarna warni. Tergantung orangnya juga, ada juga yang datang dari jauh dan punya keinginan sembuh, mau melakukan apa yang diminta. Tak sedikit pula yang tidak dilanjutkan.

Konsultasi atau pendampingan biasanya via online, karena tidak memungkinkan datang ke Jakarta. “Walaupun terbatas, saya berikan edukasi dan minta dia melakukan hal tertentu terkait masalahnya. Perlu digarisbawahi, kami tidak mencampuri urusan pribadi sebatas memberikan insight dan jika ada tindakan yang bisa dilakukan selama proses pendampingan,” jelasnya.

Misalnya membuat tulisan, atau manajemen napas (terapi jarak jauh), visualisasi tertentu. Jarak dekat ada psikoterapi dan konseling prosesnya lebih cepat. Terapi berbagai macam tergantung kondisi orang dan karakternya, misal ada orang yang tidak bisa menggunakan hypnotherapi ada yang bisa. (Bersambung)

TAGS : Depresi Kehamilan Melahirkan




TERPOPULER :