Rabu, 26/09/2018 21:44 WIB

Komisi X Tagih Pencairan Dana Bantuan Pendidikan untuk Lombok

Abdul Fikri Faqih mendesak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) segera merealisasikan dana bantuan pendidikan untuk Lombok

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih

Jakarta - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mendesak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) segera merealisasikan dana bantuan pendidikan untuk Lombok, sebagaimana janji pemerintah sebelumnya.

“Menkeu bilang dana siap pakai dicairkan Rp230 miliar ke Kemdikbud, faktanya belum ada,” kata Fikri usai melakukan kunjungan kerja ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Selasa (4/9) kemarin.

Dana siap pakai yang dimaksud diperuntukkan merehabilitasi bencana gempa di Lombok sebesar Rp1 triliun. Anggaran itu diambil dari dana cadangan di APBN yang disiapkan pemerintah sebesar Rp3,3 triliun khusus untuk penanganan bencana selama 2018.  

Fikri mengaku sudah mengkonfirmasi langsung ke Kemdikbud ketika rapat kerja pada Rabu pekan lalu. Namun hasilnya dana siap pakai tersebut belum masuk ke rekening Kemdikbud.

Fikri menjelaskan, pada rapat kerja tersebut, Kemdikbud berkomitmen menyalurkan bantuan sebesar Rp229 miliar untuk penanganan infrastruktur pendidikan di Lombok pasca gempa. “Namun, itu pun dari optimalisasi APBN 2018 melalui perubahan DIPA,” ujar politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Dilihat dari prosesnya, kata Fikri, dana optimalisasi perlu diusulkan terlebih dahulu ke dewan, untuk kemudian dibahas bersama melalui rapat kerja. Sehingga sifatnya tidak instan dan relatif lama.

Sementara, penanganan bencana sifatnya cepat tanggap, maka seharusnya dana on-call (siap pakai) yang dicairkan, bukan dengan optimalisasi anggaran.

“Melihat kondisi infrastruktur pendidikan di Lombok yang rusak parah, kita harus selamatkan nasib pendidikan anak-anak korban gempa di sana dengan segera,” ujar Fikri.

Berdasarkan data yang diperoleh Komisi X DPR RI selama kunjungan kerja ke Lombok pada 1-3 September 2018 lalu, terdapat 977 sekolah dan satuan pendidikan yang terdampak gempa.

Sebanyak 3.655 ruang kelas rusak, 1.806 diantaranya rusak parah, 891 rusak sedang, dan 958 rusak ringan. 40.225 siswa dan guru juga telah mengungsi.

Saat ini aktifitas belajar mengajar dilakukan di bawah tenda-tenda darurat. Menurut data pos pendidikan gempa lombok, dibutuhkan setidaknya 557 tenda sekolah darurat beserta 557 perlengkapan belajar.

Melihat perkembangan terakhir, tenda sekolah darurat baru ada 112 buah, sedangkan yang terpasang baru 45 buah.  Adapun paket sekolah baru ada 5.000 paket, dan yang terdistribusi baru 1.200 paket.

“Jadi tolong, jangan lakukan pencitraan lagi soal pemerintah yang dermawan, segera buktikan saja dengan riil,” pungkasnya.

TAGS : Pendidikan Lombok Gempa




TERPOPULER :