Jum'at, 21/09/2018 20:54 WIB

Butuh 250 Tahun Politeknik Samai Jumlah Universitas

Bila dibandingkan, total perguruan tinggi akademik Indonesia berjumlah 4.529, sementara politeknik hanya 2.252.

Politeknik Negeri Malang

Jakarta – Jumlah pendidikan tinggi akademik dan vokasi di Indonesia masih jomplang. Bila dibandingkan, total perguruan tinggi akademik Indonesia berjumlah 4.529, sementara politeknik hanya 2.252.

Sehingga, kata Direktur Jenderal Kelembagaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Patdono Suwignjo, butuh waktu sekitar 250 tahun agar politeknik bisa menyamai jumlah pendidikan non-vokasi.

“Kalau ingin membuat politeknik sama dengan pendidikan akademik atau universitas, kita perlu 250 tahun. Tahun lalu saja, satu tahun cuma delapan politeknik yang mengusulkan izin,” kata Patdono dalam Forum Konsultasi Publik di Kantor Kemristekdikti Jakarta, pada Selasa (28/8).

Lesunya pertumbuhan jumlah politeknik, menurut Patdono, tidak lepas dari mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Bagaimana tidak, untuk jumlah mahasiswa 2.000-2.500, perlu anggaran sebesar Rp250 hingga Rp300 miliar.

Malangnya lagi, setelah ada politeknik, tidak banyak anak orang kaya yang mau kuliah di politeknik. Sehingga masih ada sejumlah keberatan jika diterapkan uang gedung sebesar Rp50 juta sampai Rp100 juta.

“Coba kalau kedokteran, ditarif Rp500 juta aja ngatri, meskipun nanti DO ya tidak apa-apa. Yang penting sudah menjadi mahasiswa kedokteran,” ujarnya.

Modal awal juga tak kalah penting. Patdono mengungkapkan, paling tidak untuk mendirikan perguruan tinggi baru, harus sudah menyiapkan modal selama lima tahun ke depan.

Pasalnya, kata Patdono, pada tahun pertama perguruan tinggi tidak langsung digandrungi oleh mahasiswa baru. Belum lagi untuk keperluan promosi, sosialisasi, hingga memenuhi biaya operasional.

“Kalau tidak punya cadangan finansial yang cukup untuk lima tahun, bisa mati. Karena pada tahun pertama jumlah pendaftarnya tidak banyak. Belum banyak masyarakat yang tahu. Kalau sudah lima tahun nanti baru bisa untuk mebiayai operasional,” ungkap Patdono.

TAGS : Pendidikan Kemristekdikti Vokasi




TERPOPULER :