Kamis, 28/01/2021 06:19 WIB

Mata Uang Rial Iran Tembus 112.000 per USD

Mata uang Iran, Rial (Foto: Reuters/Thaier al-Sudani)

Tehran - Sejak Amerika Serikat (AS) mengumukan akan menerapkan kembali sanksi kepada Iran, mata uang Negeri Para Mullah itu belum juga mengalami performa terbaiknya.

Situs pertukaran valuta asing Bonbast.com menyebutkan, rial jatuh dari 97.500 per USD pada Sabtu, menjadi  111.500 USD pada Minggu. Situs lain menyebutkan dolar ditukar antara 108.500 dan 116.000 untuk rial.

Sejak April, rial kehilangan sekitar setengah dari nilainya karena ekonomi yang lemah, kesulitan keuangan di bank-bank lokal dan permintaan besar untuk dolar di kalangan orang Iran yang takut akan efek sanksi.

Pada bulan yang sama, Pemerintah Iran mencoba menstabilkan di angka 42.000 per USD. Ia mengancam untuk menindak pedagang pasar gelap. Namun perdagangan berlanjut di tengah kekhawatiran publik tentang kemerosotan ekonomi yang berkepanjangan.

Pada 7 Agustus, Washington akan menerapkan kembali sanksi atas pembelian atau perolehan dolar AS, perdagangan Iran pada emas dan logam mulia, dan pada penjualan, pasokan dan transfer langsung dan tidak langsung ke atau dari Iran grafit, mentah atau logam setengah jadi, batubara dan perangkat lunak yang terkait dengan industri.

Selain itu, sanksi juga kemungkinan besar akan diberlakukan kembali untuk impor ke AS dari karpet dan bahan makanan yang dibuat di Iran, dan pada transaksi keuangan terkait tertentu.

Sejauh ini, Iran, berencana untuk menawarkan insentif harga dan pajak kepada investor swasta untuk mengambil alih proyek-proyek negara menganggur dan membantu meningkatkan perekonomian.

Wakil Presiden Eshaq Jahangiri mengatakan, rencananya akan menawarkan harga yang menarik dan persyaratan yang fleksibel serta liburan pajak bagi investor yang setuju untuk mengambil alih sebagian dari 76.000 proyek pemerintah yang belum selesai atau menganggur.

"Selama beberapa bulan terakhir, likuiditas negara telah masuk ke perumahan, valuta asing dan koin emas, menaikkan harga dan memprovokasi keprihatinan publik," kata Jahangiri, dilansir Al Jazeera, Senin (30/7).

Pada tanggal 4 November 2018, sanksi kedua diperkirakan mulai dari industri seperti pelayaran, minyak, petrokimia dan sektor energi. AS akan mengejar upaya untuk mengurangi penjualan minyak mentah Iran.

Ekspor minyak Iran dapat jatuh sebanyak dua pertiga, menempatkan pasar minyak di bawah tekanan besar di tengah kekurangan suplai di tempat lain di dunia.

TAGS : Iran Amerika Serikat rial




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :