Minggu, 06/12/2020 01:21 WIB

Pojokkan Intelijen AS, Trump Tuai Kecaman

Anggota senior komite intelijen di Senat dari Partai Demokrat, Mark Warner, menyebut komentar Trump ini pelanggaran atas tugas intinya sebagai seorang presiden.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Foto: Reuters)

Washington - Pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan koleganya dari Rusia, Vladimir Putin menuai kecaman. Terutama ketika Trump menolak mempercayai informasi intelijennya yang meyakini Putin berada di balik pemilihan presiden AS 2016.

Dalam konferensi pers bersama setelah beberapa jam dialog antara presiden AS dan Rusia, Trump  mengatakan kepada awak media bahwa ia memiliki kepercayaan yang sangat besar kepada komunitas intelijen AS, namun Presiden Putin menyangkal dengan sangat keras dan kuat hari ini.

Ia mengkritik penyelidikan Penasihat Khusus Robert Mueller atas dugaan campur tangan Rusia dan kemungkinan kolusi pada kampanye Trump, berkata bahwa "ini adalah bencara untuk negara kita. Ini memecah belah kita. Ini memisahkan kita."

"Sangat konyol apa yang terjadi dengan penyelidikan ini," ujar Trump, menambahkan dia "tidak melihat alasan" mengapa Rusia ingin mengubah hasil pemilu.

Menanggapi hal itu, Anggota senior komite intelijen di Senat dari Partai Demokrat, Mark Warner, menyebut komentar Trump ini pelanggaran atas tugas intinya sebagai seorang presiden.

"Untuk seorang presiden Amerika Serikat berdiri di sebelah Vladimir Putin, yang secara langsung memerintahkan salah satu serangan siber terbesar dalam sejarah kita, dan memihak kepada Putin ketimbang para pemimpin intelijen dan militer Amerika adalah pelanggaran tugasnya membela negara kita dari musuh," ujar dia melalui pernyataan.

Ketua Parlemen dari Partai Republik Paul Ryan mengatakan, keterlibatan Moskow dalam pemilihan umum 2016 tak perlu dipertanyakan lagi.

"Ini bukan hanya temuan komunitas intelijen Amerika, namun juga Komite Parlemen untuk Intelijen," jelasnya.

"Tidak ada persamaan moral antara Amerika Serikat dengan Rusia, yang tetap merupakan bahaya bagi nilai-nilai dan ide dasar kita. Amerika Serikat harus fokus meminta pertanggungjawaban Rusia dan mengakhiri serangannya terhadap demokrasi."

Salah satu kecaman paling keras datang dari mantan Ketua CIA John Brennan yang mengatakan, "Konferensi pers Donald Trump di Helsinki melebihi definisi `kejahatan tingkat tinggi dan pelanggaran ringan."

"Ini sama saja bentuk pengkhianatan. Komentar Trump tidak hanya meresahkan, dia juga sepenuhnya berada di saku Putin. Patriot Republik: Di mana kalian???" tulisnya di Twitter.

Trump kemudian mencoba membela komentarnya di sosial media, berkata dia memiliki "kepercayaan BESAR terhadap orang-orang intelijen SAYA.

"Meski begitu, saya menyadari untuk membangun masa depan lebih baik, kita tidak bisa hanya fokus ke masa lalu, sebagai dua negara dengan kekuatan nuklir terbesar, kita harus sejalan!" ujarnya. (aa)

TAGS : Donald Trump Vladimir Putin




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :