Kamis, 21/01/2021 06:15 WIB

Bermain Bisa Menstimulasi Perkembangan Sel Saraf Anak

Shimajiro adalah karakter edukatif nomor satu di Jepang yang berperan sebagai teman belajar anak.

Selain nutrisi, anak usia dini membutuhkan stimulasi untuk pertumbuhan sel sarafnya salah satunya dengan mainan.(Foto : Istimewa)

Jakarta - Periode golden age (5 tahun pertama dalam kehidupan anak) merupakan tahapan terpenting dalam perkembangan fisik, intelektual, emosional, dan sosial. Untuk itu, orangtua perlu mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, dengan menyediakan lingkungan yang mampu menstimulasi rasa ingin tahu mereka dan memberikan berbagai pengalaman yang menyenangkan.

"Rentan usia masa keemasan anak yaitu 0-6 tahun, dimana rentan usia ini pun terbagi lagi. Di 5 tahun pertama kehidupan anak pertumbuhan sel saraf otak anak berkembang 50 persen, 30 persen akan terbentuk di usia 8 tahun dan 20 persen di 18 tahun," jelas Dr. Sofia Hartati, M.Si, Ketua Asosiasi Pendidikan Guru PAUD pada press conference Kodomo Challenge Hadirkan Shimajiro di Jakarta, Sabtu (5/5).

Lebih lanjut ia mengatakan, sel saraf anak dapat berkembang apabila dilakukan stimulasi. Apabila tidak dilakukan stimulasi maka jangankan berkembang, sel saraf anak justeru akan menyusut bahkan tidak berfungsi. "Disinilah dibutuhkan peran aktif orangtua untuk memberikan nutrisi baik dan stimulasi," katanya.

Nadya Pramesrani, M.Psi, Psi, Psikolog Keluarga yang juga Co-Founder Rumah Dandelion menambahkan, bermain adalah cara anak usia dini dalam belajar tentang dunianya. "Melalui bermain, anak belajar untuk mengembangkan berbagai macam kemampuan yang akan bermanfaat untuk menjalani dunia akademisnya nanti, seperti kemampuan motorik kasar, motorik halus, personal dan sosial, serta kognitif,” ujar Nadya.

Melihat ini, Benesse Corporation menghadirkan Kodomo Challenge, program edukasi untuk mendampingi orang tua dalam mengoptimalkan perkembangan anak usia dini. Program ini menggunakan sistem berlangganan dengan paket yang dikirimkan ke rumah setiap bulan.

Kodomo Challenge dirancang agar anak dan orang tua dapat belajar sambil bermain bersama menggunakan media multiplatform, yaitu Buku Bergambar, Mainan Edukasi, serta Video Edukasi.

"Kami sangat memahami betapa pentingnya periode perkembangan anak usia dini yang akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa depan," ujar Daisuke Okada, President Director PT Benesse Indonesia.

Pihaknya bekerja sama dengan para ahli Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk menyusun program edukasi yang seimbang dan komprehensif sesuai dengan perkembangan anak Indonesia. "Kodomo Challenge ingin mengampanyekan kepada orang tua untuk menikmati waktu berkualitas sambil membangun motivasi dan kepercayaan diri anak," lanjutnya.

Saat ini, Kodomo Challenge tersedia dalam dua pilihan program, Toddler (untuk anak usia 1-2 tahun) dan Playgroup (untuk anak usia 2-3 tahun). Metode pembelajaran yang disediakan oleh Kodomo Challenge memiliki tiga keunggulan. Pertama, menggunakan pendekatan multi platform, dengan video, buku bergambar, dan mainan yang terintegrasi satu sama lain. Kedua, kurikulum dan materi yang sesuai dengan perkembangan usia anak. Ketiga, menghadirkan sosok learning buddy, Shimajiro.

Shimajiro adalah karakter edukatif nomor satu di Jepang yang berperan sebagai teman belajar anak. Bersama Shimajiro, rasa ingin tahu dan motivasi anak akan meningkat. Misalnya, saat anak sedang susah makan, orang tua bisa menjadikan Shimajiro sebagai contoh sehingga anak termotivasi untuk makan.

TAGS : Kodomo Challenge anak mainan stimulasi sel saraf




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :