Rabu, 21/08/2019 23:39 WIB

Melirik Batik Tiga Negeri Khas Batang

Satu-satunya pembatik yang masi menggunakan cara tradisional dengan motif yang unik.

Batik Tiga Negeri khas Kabupaten Batang.(Foto : Andi Mardana/Jurnas.com)

Jakarta - Berbicara mengenai batik seakan tak pernah ada habisnya. Bagaimana tidak, sejak United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia pada 2009 lalu, gaung batik Tanah Air semakin bergema hingga ke seluruh dunia. Seiring perkembangan zaman, kini pengrajin banyak meninggalkan cara tradisional (batik tulis) dengan alasan efisiensi waktu dan tenaga dengan menggunakan teknologi printing (batik printing). Perubahan teknik pembuatan ini banyak sedikitnya akan mengikis nilai seni dalam membatik.

Saat ini bisa dibilang batik tulis sudah banyak ditinggalkan, kecuali bagi perajin di Kampung Batik Tiga Negeri di Desa Kalipuceng Wetan, Kabupaten Batang. Di tempat ini, batik yang dibuat oleh komunitas di Desa Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang sudah dikenal dengan batiknya yang khas dengan corak "Tiga Negeri".

Miftakhutin (40), pelatih sekaligus perajin batik Rifaiyah menjelaskan bahwa batik di daerah tersebut satu-satunya pembatik yang masih menggunakan cara tradisional. Batik ini merupakan batik yang unik karena selain motif-motifnya yang khas tidak ada di tempat lain, karya ini juga mengambil spirit dari ajaran KH Ahmad Rifai dituangkan ke dalam kain tersebut.

"Batik ini masih menggunakan teknik-teknik kuno jadi kita masih menggunakan tekniknya seperti yang diajarkan orangtua kita dulu. Saya membatik sudah mulai usia 9 tahun sampai sekarang, berarti sudah 31 tahun, tekniknya masih tetap sama, motifnya sama, pewarnaannya sama nggak berubah," jelas Uting," ujarnya saat ditemui di Galeri & Workshop Batik Rifaiyah Desa Kalipuceng Wetan, Batang, Rabu (3/5).

Lebih lanjut ia menerangkan, Batik Rifaiyah masuk ke dalam kategori batik pesisir dengan ciri khas gabungan batik klasik dari Mataraman Solo dan Yogyakarta dengan sentuhan warna coklat, merah sentuhan cina dari Lasem dan biru dari pesisir Pekalongan dan Batang. Nah batik asal Batang yang terkenal ini salah satunya adalah Batik Tiga Negeri yang artinya perpaduan tiga daerah dalam satu kain.

"Batik Tiga Negeri ini kita jual mulai dari Rp 350 ribu - Rp 3,5 juta. Itu kalau di sini kita jual murah, tapi kalau kita jual di pameran yang Rp 350 ribu kita jual Rp 700 ribu," jelas Uting.

Harga yang ditawarkan dari batik tulis ini terbilang mahal, karena proses pembuatan yang begitu lama memakan waktu empat hingga enam bulan. Yang menjadikan batik ini istimewa ialah kehalusan, motifnya dan pewarnaanya. Tergantung tingkat kesulitan motif dan tergantung kesibukan para pembatik di Komunitas Batik Rifaiyah ini, karena tak semuanya full-time jadi pembatik.

"Kita pake sintetis mba kalau jaman si mbah saya pake pewarna alam (dari tumbuh-tumbuhan) tahun 70an itu hilang kemudian di ganti naptol di generasi saya. Sebenarnya menurut mbah saya itu nggak sulit tapi karena ada evolusi industri ada pupuk, ada warna alam itu yah kita jadi mau cepet karene warna alam itu celupannya tujuh kali sampai 20 kali. Kalau yang kita buat hanya dua sampai tiga kali sudah jadi. Kalau bukan warna alam kita menggunakan teknik-teknik kuno sehingga tidak luntur meski digunakan sampai puluhan tahun," jelas Uting.

Setiap batik di daerah punya ciri khas masing-masing yang menggambarkan kearifan lokal daerah. Dari motif, warna, hingga corak bisa bermacam-macam. Batik Rifaiyah sendiri motifnya kebanyakan menggambarkan tumbuhan, sangat jarang ada motif hewan karena dalam ajaran islam dilarang untuk menggambarkan makhluk hidup kecuali yang berasal dari flora.

Hal ini disebabkan oleh pembatik di Batang ini kebanyakan adalah muslim yang memegang teguh ajaran islam, yang dibawa oleh guru besar Pondok Pesantren setempat yaitu KH. Ahmad Rifai. Ia juga merupakan pejuang kemerdekaan di zaman kolonial dan seorang pahlawan nasional. Sehingga nama batik ini dinamai Rifaiyah.

Dia mengakui, anak-anak muda di Batang sekarang sudah mulai meninggalkan kerajinan warisan budaya nusantara ini.

"Dulu saya anggep membatik biasa aja karena kebiasaan dari kecil. Tapi saya dikasih tahu sama orang-orang kalau banyak penelitian batik ini ya satu-satunya di dunia. Saya baru sadar kalau kita punya warisan luhur," jelasnya.

Jadi, kalau Anda berkunjung ke Pekalongan dan Batang, jangan lupa bawa cendera mata batik tulis dari Batang.

TAGS : batik tulis tiga negeri warisan budaya perajin




TERPOPULER :