Jum'at, 23/10/2020 17:50 WIB

Utang Indonesia Dinilai Mengkhawatirkan

Utang Indonesia saat ini dinilai sudah cukup mengkhawatirkan atau lampu kuning. Hal itu dilihat dari kemampuan membayar terhadap jumlah utang yang dimiliki Indonesia.

Anggota Komisi XI DPR, Achmad Hafisz Tohir

Jakarta - Utang Indonesia saat ini dinilai sudah cukup mengkhawatirkan atau lampu kuning. Hal itu dilihat dari kemampuan membayar terhadap jumlah utang yang dimiliki Indonesia.

Anggota Komisi XI DPR RI Achmad Hafisz Tohir mengatakan, APBN selama ini lebih banyak tersedot untuk membayar utang. Menurutnya, jika bicara melalui rasio yang ada, utang masih dikategorikan di atas normal dan terkendali.

"Tapi beberapa pihak mengatakan bahwa sebetulnya utang kita kalau dianalisa di luar rasio GDP, maka sudah masuk kategori cukup mengkhawatirkan," kata Hafisz, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (10/4).

Menurutnya, di seluruh negara rasio utang selalu diasumsikan terhadap GDP. Dimana, besarnya utang dihitung perbandingannya terhadap GDP. Utang Indonesia tidak bisa dinilai lebih baik daripada Jepang dan Amerika.

Sebab, Jepang dan Amerika punya kemampuan bayar yang tinggi dan aset yang juga jauh lebih besar. Sementara, Indonesia hanya bisa dibandingkan utangnya dengan negara seperti Brazil, karena punya kasus yang hampir sama.

"Ketika sebagian pihak mengatakan utang kita lebih baik daripada Jepang dan Amerika. Ini jadi kendala. Mestinya kita tidak membandingkan seperti itu. Kalau mau membandingkan, ya dengan Brazil yang kasusnya sama dengan kita," terangnya.

"Jepang punya kemampuan membayar yang jauh lebih tinggi daripada kita. Aset mereka juga jauh lebih tinggi. Jadi, tidak bisa negara seperti Jepang dan Amerika direfer untuk pembanding,” papar  politisi PAN tersebut.

Sejumlah ekonom yang diundang ke Komisi XI, sambung Hafisz, juga melihat kalau dikaitkan dengan rasio kemampuan membayar, maka utang Indonesia sudah lampu kuning. Neraca dan APBN terkuras untuk proyek infrastruktur dan bayar utang.

"Kita melihat bahwa yang tertinggi itu adalah pembayaran utang dari semua anggaran APBN kita. Tapi, GDP kita dibandingkan dengan utang masih aman. Cuma di dalam GDP itu ada institusi-institusi asing. Itulah yang menyebabkan GNP kita tidak sebaik yang diharapkan,” tutup Hafisz.

TAGS : Utang Indonesia Presiden Jokowi APBN




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :