Senin, 30/11/2020 14:38 WIB

Setelah Referendum , Pemimpin Kurdi Lepas Jabatan

Masoud Barzani akan melepaskan jabatannya sebagai presiden pada 1 November, setelah referendum kemerdekaan yang diperjuangkannya menjadi bumerang dan memicu krisis regional

Pemimpin Kurdi Irak Masoud Barzani

Erabil - Pemimpin Kurdi Irak Masoud Barzani akan melepaskan jabatannya sebagai presiden pada 1 November, setelah referendum kemerdekaan yang diperjuangkannya menjadi bumerang dan memicu krisis regional.

Persetujuan tersebut dikeluarkan dalam sebuah sesi tertutup pada Minggu (29/10) waktu setempat di Parlemen Kurdistan Irak di ibukota regional, Erbil.

Dalam pidato di televisi, yang pertama sejak pasukan Irak melancarkan serangan mendadak merebut kembali wilayah yang dikuasai Kurdi pada 16 Oktober, Barzani menegaskan ia tidak akan memperpanjang masa jabatan presidennya setelah 1 November dalam kondisi apapun.

Keputusan tersebut diambil lebih dari sebulan setelah  referendum pemisahan kontroversial yang dipelopori oleh Barzani, yang menyulut pertempuran antara pemerintah Irak dan pasukan Peshmerga Kurdi.

Dalam sebuah surat kepada parlemen, Barzani mengatakan,"Saya adalah Masoud Barzani yang sama, saya adalah seorang Peshmerga (pejuang Kurdi) dan akan terus membantu rakyat saya dalam perjuangan mereka untuk merdeka," kata Barzani, yang berkampanye untuk penentuan nasib sendiri Kurdi selama hampir empat dekade.

Barzani, yang berusia 71 tahun itu memberi isyarat bahwa ia ingin membagi kekuasaan presiden antara pemerintah daerah, parlemen dan pengadilan. Meski demikian, ia akan tetap berada dalam politik Kurdi sebagai pemimpin Dewan Tinggi Politik, menurut asisten seniornya Hemin Hawrami.

Seorang pejabat Kurdi  mengatakan kepada Reuters pada Sabtu, Barzani memutuskan untuk menyerahkan kepresiden tanpa menunggu pemilihan yang telah ditetapkan pada 1 November yang kini telah tertunda dalam delapan bulan.

Daerah yang menikmati otonomi selama bertahun-tahun tersebut, mengalami kekacauan sejak referendum kemerdekaan sebulan yang lalu mendorong pembalasan militer dan ekonomi dari pemerintah pusat Irak di Baghdad.

Dalam pidatonya, Barzani dengan giat mempertahankan keputusannya untuk mengadakan referendum 25 September, yang hasilnya tidak akan pernah bisa dihapus, katanya. Pemungutan suara itu sangat merdeka dan memicu aksi militer oleh pemerintah Baghdad dan ancaman dari negara tetangga Turki dan Iran.

Ia menambahkan, serangan Irak terhadap Kirkuk dan wilayah Kurdi lainnya  memastikan posisinya bahwa Baghdad tidak lagi percaya pada federalisme dan malah ingin membatasi hak-hak Kurdi.

TAGS : Kurdi Irak Masoud Barzani




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :