Minggu, 15/12/2019 22:40 WIB

Kolom Muhtar S Syihabudin*

Merindukan Ramadhan

Muhtar S Syihabudin

Ditinggalkan bulan suci Ramadhan adalah melepas merpati putih terbang ke angkasa. Dia mengepakkan sayapa putihnya mentisakankesepian, sekaligus membuat kerinduan tidak terbendung. Rindu pada bulan suci Ramadhan yang berisi keutamaan; berpuasa, tarawih, witir, sahur, lailatulqodar, zakat fitrah dan ibadah lainnya.

Lalu bagaimana dengan kerinduan Ramadhan itu, kala semua yang dilakukan dalam ibadah di bulan Ramadhan lenyap ditelan bumi? Apakah masih tersisa rasa kerinduan pada Ramadhan dalam diri kita, kala menyongsong bulan berikutnya? Dan bagaimana caranya?

Kerinduan tersebut akan sangat menyiksa kita, jika mampu menyelami betapa berharga kesempatan hidup yang diberikan untuk Ramadhan tahun ini. Mungkin tahun depan salah satu dari kita sudah ada yang dijemput maut. Atau tetap hidup tapi tidak bisa melaksanakan ibadah puasa secara sempurna.

Siksaan rindu akan Ramadhan tidak akan menimpa bagi orang yang melihat Ramadhan sebatas bulan biasa-biasa saja. Kalaupun bisa berpuasa hanya sebatas lapar-dahaga dan berbuka dengan makanan melimpah ruah. Puasa tidak mendorong dirinya melakukan amal kebajikan, sekedar pindah pola makan dan banyak tidur siang. Ramadhan tidak bersiranr, baik untuk dirinya maupun seluruh umat muslim di dunia.

Anda dapat dengan mudah mengukur kualitas taqwa pasca Ramadhan. Kualitas taqwa akan sangat bisa ditentukan dengan perubahan cara bergaul, sekaligus ibadah-ibadah sesudah Ramadhan. Atau yang paling menarik, kualitas taqwa itu sangat terkait posisi sosiall di mana dirinya diberikan sebuah amanah; terutama dalam tanggung jawab mengurus umat.

Jangan sampai, selepas Ramadahan ada lagi berita menyesakkan dari lembaga anti ruswah. Tertangkap tangan lagi penyelenggara negara yang menyalahgunakan jabatan untuk mendapatkan keuntungan bukan pada tempatnya. Ramadhan 2017 terasa hambarkarena tidak mampu menjadikan negeri ini bebas dari korupsi.

Getar rindu Ramadhan tidak jauh beda dengan yang hadir dalam syair Bimbo. "Rindu padamu, aku ya rasul. Rindu tiada tara. Berjarakr abad padamu ya rasul....". Ekspresi Bimbo berupa rindu secara spiritual, bukan emosional. Tidak cengeng seperti merintih rasa ingin menatap sang pujaan hati. Tapi penuh khidmat akan sosok maha sempurna, Nabi Muhammad Saw yang menekankan pentingnya menjaga amanah mengurus ummat.

Diceritakan, Nabi Muhammad Saw punya kepedulian tiada tara pada ummatnya, terutama agar tidak terjerumus dalam prilaku yang merugikan sesamanya. Perang atas prilaku korupsi sudah dimulai dari abad ke-7, setelah kepastian tugas pada Nabi Muhammad Saw; "sesungguhnya aku diutus untuk mementingkan prilaku terpuji" (HR. Bukhori). Dan nabi mengajarkan prilaku terpuj itumementingkan proses penyadaran secara bertahap.

Saya kira rindu pada Ramadhan bisa ditanamkan secara bertahap. Tidak memaksakan diri dengan pengakuan kerinduan membabi buta. Mengumbar kesadaran palsu, sepintas lalu ikut hanyut akan aroma wangi keutamaan Ramadhan. Tapi nyatanya amal kebajikan masih ditawar dengan keinginan mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompoknya.

Daya tawar ini dikatakan oleh para sufi sebagai sifat dasar manusia yang cendrung menolak hati nurani. Kita sedianya bisa menyingkap tirai kesadaran untuk mengikuti panggilan nurani. Jujur saja, Ramadhan itu bukan soal pahala berlipat ganda, tapi soal cara pandang kita untuk selalu memompa amal kebajikan.

Jangan berfkir terlalu besar untuk mengubah sebuah tatanan masyarakat. Berangkatlah dari kebiasan baik meski kecil untuk di amalkan dalam kehidupan nyata. Yang bisa memberikan contoh pada orang terdekat, kemudian menyinari masyarakat terkecil sampai terdengar oleh seluruh penghuni rumah Indonesia.

Pancaran tauladan dalam diri kita merupakan senjata paling ampuh untuk melahirkan tatanan yang baik dan beradab. Jangan berharap banyak dari retorika di panggung megah tentang kebaikan, tapi minin amal nyata di lapangan. Dunia citra adalah satu dari sekian banyak hal yang menjadikan pembangunan tatanan kehidupan tidak menemukan bentuknya yang sempurna.

Alqur`an mewartakan dalam kalimat "Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan(QS As-Shaf : 3). Yaitu semangat mengajarkan sekaligus mengajak berbuar baik, tapi dirinya sendiri tidak melakukannya.

Rindu Ramadhan adalah ritme aksi nyata, minimal tentang kebiasaan kurang terpuji pada kepedulian sosial. Sudah menjadi rahasia umum, pesan paling aktual dari puasa adalah kepedulian sosial. Dan ini harus dilakukan dengan bukti nyata, meski kecil asal terukur.

Coba nanti Anda rasakan kekuatan rindu Ramadhan dengan aksi nyata. Makin perbanyak rasa kepedulian sosial itu dengan tanpa beban. Semuanya adalah bagian tidak terpisahkan dari tugas kemanusiaan di muka bumi. Sepanjang kita peduli pada sesama, semas itu pula akan terasa bahwa hidup ini jangan dijalani secara sendiri-sendiri.

Terakhir, jangan-jangan Anda atau saya sendirinya tidak sepenuhnya rindu pada Ramadhan. Biasa saja memang, sangat manusiawi. Tidak bisa dipaksakan dan direncanakan. Kembalikan saja secara jujur pada hati nurani tentang keutamaan Ramadhan. Semoga Anda atau saya sendiri, bukan bagian dari orang yang menyerah pada putaran bulan dalam setahun. Keutamaan Ramadhan itu memang ada, tapi selalu ada introgasi kembali pada kebiasaan lama.

Rindukan Ramadhan 2018, panjang umur murah rezeki, amiiin.

*Pengasuh Pesantren Assalam Plered Purwakarta Jawa Barat.

TAGS : Ramadhan idul fitri muhtar s syihabuddin




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :