Minggu, 05/04/2020 03:47 WIB

Kata DPR, Hal Ini Sebabkan Pertamina Gagal Bangun Kilang

Legislator asal Kalimantan Barat tersebut mengungkapkan sebenarnya keinginan Pertamina membangun kilang minyak sudah mendapatkan dukungan yang memungkinkan dari sisi politik.
 

Katherine A Oendoen saat Raker Komisi VII DPR dengan Menteri ESDM Ignatius Jonan

Jakarta - Anggota komisi VII DPR fraksi Gerindra Katherine A Oendoen mengatakan,  wajar jika PT Pertamina tidak dapat wujudkan pembangunan kilang minyak sesuai target penyelesain di tahun 2023. Menurut hematnya, kegagalan tersebut disebabkan  masalah keekonomian kilang yang kurang meyakinkan dari sisi investor.

"Secara ekonomi, belum ada yang bisa menjamin bahwa membangun kilang baru lebih menguntungkan daripada impor BBM seperti sekarang ini," ujar Katherine kepada Jurnas.com di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (9/6/2017). 

Katherine menyampaikan pembangunan kilang yang dicanangkan Pertamina mesti memenuhi analisa ekonomi dari pihak investor. Artinya investor ingin jaminan bahwa investasi yang ditanam itu aman berdasarkan kalkulasi bisnis. 

"Bagi investor, persoalan Internal Rate of Return (standar efisiensi investasi) dan Margin Pengolahan (batas biaya pengolahan)   adalah jaminan bagi mereka bahwa investasi mereka aman. Dua hal penting inilah yang belum jelas bagi investor dan Pertamina yaitu IRR dibawah 10% dan MP minus, demikian paparnya," ucapnya.

Legislator asal Kalimantan Barat tersebut mengungkapkan sebenarnya keinginan Pertamina membangun kilang minyak sudah mendapatkan dukungan yang memungkinkan dari sisi politik.

"Kalau dari sisi politik sudah clear, kita semua ingin ketahanan energi kita meningkat kalau kapasitas kilang dalam negeri ditingkatkan seiring dengan meningkatnya kebutuhan BBM dalam negeri," jelasnya.

Seperti diketahui, Pertamina (Persero) akhirnya memundurkan target penyelesaian proyek-proyek kilang minyak. Awalnya semua proyek kilang direncanakan selesai semua pada 2023. Tetapi sekarang tiap proyek mundur 1-2 tahun. 

Keputusan ini diambil dengan pertimbangan kemampuan finansial. Saat ini Pertamina tengah menjalankan 4 proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) alias modifikasi kilang Cilacap, Balikpapan, Balongan, dan Dumai. Selain itu ada 2 proyek Grass Root Refinery (GRR) atau pembangunan kilang baru di Tuban dan Bontang.

Tiap proyek RDMP membutuhkan biaya investasi kurang lebih sebesar US$ 5 miliar atau Rp 65 triliun, sedangkan 1 proyek GRR nilainya sekitar US$ 12,5 miliar alias Rp 162,5 triliun. Artinya semua proyek itu memakan biaya US$ 45 miliar atau Rp 585 triliun.

TAGS : DPR Katherine A Oendoen Kilang Pertamina




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :