Senin, 23/04/2018 07:02 WIB

Ini Alasan Mengapa Harga Daging Lokal Lebih Mahal

Direktoral Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita membeberkan alasan mengapa harga daging impor jauh lebih murah dibandingkan harga sapi segar lokal

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Foto: agrofarm.co.id)

Jakarta - Direktoral Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), I Ketut Diarmita membeberkan alasan mengapa harga daging impor jauh lebih murah dibandingkan harga sapi segar lokal. Ketut menyebut sistem tata niaga dan pemeliharaan yang belum efisien sebab utamanya.

Daging impor harganya bervariasi tergantung jenis potongan dan kualitasnya, daging beku ex impor harga eceran tertinggi Rp80.000 per kg. Daging tersebut berasal dari daging kerbau ex impor atau daging sapi beku ex impor potongan secondary cut dari bagian paha depan. Sementara harga daging sapi segar masih betah bertahan pada Rp110.000 hinga Rp120.000/kg.

"Harga daging sapi lokal segar kisaran Rp110.000," kata Direktoral Jendral Perdangan Dalam Negeri, Tjahja Widayanti saat di konfirmasi Jurnas.com pada Selasa (23/5)

"Mahalnya daging sapi segar lokal disebabkan sistem pemeliharaan yang belum efisien dan skala kepemilikan masih 2 hingga 5 ekor per perternak. Jika dibandingkan dengan sistem pemeliharaan di negara produsen sapi seperti Australia dan New Zealand," kata I Ketut Diarmita saat dikonfirmasi Jurnas.com pada Selasa (23/5)

Bukan hanya itu, lanjut I Ketut, rantai tata niaga sapi dari peternak ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) ke pedagang daging masih sangat panjang sehingga menimbulkan biaya tambahan yang juga memicu tingginya harga daging lokal.

Perlu diketahui pemasukan daging kerbau dengan harga yang lebih murah melalui Bulog bukan untuk mengguncang harga daging sapi lokal, tutur Ketut, tetapi untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang belum bisa menjangkau harga daging sapi segar lokal.

TAGS : Kementerian Pertanian Kementerian Perdagangan Daging Sapi Komoditas




TERPOPULER :