Rabu, 02/12/2020 19:50 WIB

Alasan Teroris Geser Target Serangan ke Aparat

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri diimbau untuk mengakhiri cara-cara kekerasan dalam menangani terduga teroris.

Densus 88

Jakarta  - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri diimbau untuk mengakhiri cara-cara kekerasan dalam menangani terduga teroris. Tak terkecuali tindakan tembak ditempat.

Demikian disampaikan pengamat terorisme dari Indonesian Muslim Crisis Center (IMC2) Syaifudin Zuhry. Bukan tanpa alasan hal itu disampaikan Syaifudin. Mengingat target serangan teroris saat ini bergeser kepada aparat. Syaifudin menilai pergeseran itu merupakan aksi balas dendam atas perlakuan represif dalam menindak teroris.

"Alasan teroris menggeser target serangan ke aparat, bukan sekadar anggapan aparat sebagai Anshorut Thogut. Tapi juga aksi balas dendam atas perlakuan aparat," kata Syaifudin saat dikonfirmasi, Senin (26/12).

Densus 88 diketahui belum lama ini melakukan penggerebekan terhadap empat orang terduga teroris di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Dua orang di antaranya tewas setelah terkena timah panas dari petugas saat berusaha melawan. Para terduga teroris itu diamankan lantaran ditenggarai berencana menyerang pospol.

Densus 88 juga sebelumnya menembak mati tiga dari empat orang teroris di Bababan, Setu, Tangerang Selatan. Mereka diduga melawan polisi dengan senjata revolver meskipun sudah diberi peringatan.

Meski situasi di lapangan memaksa aparat menggunakan cara-cara kekerasan, Syaifudin kembali mengingatkan skenario tembak di tempat harus diakhiri. "Skenario tembak di tempat harus diakhirkan, bahkan bila perlu aparat menghindari cara tersebut," tutur dia.

Pada kesempatan ini Syaifudin menilai sulitnya upaya deradikalisasi disebabkan terdapat sejumlah fakta tindakan teror yang menunjukkan perasaan dendam yang di legitimasi dengan doktrin ideologi. "Ini mempersulit upaya kontranarasi, kontraradikalisasi apalagi deradikalisasi itu

TAGS : Densus 88 Terorisme Teroris IMC2




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :