Jum'at, 10/07/2020 07:28 WIB

Gerakan Malu Menganggur Ala Bupati Lampung Timur

Chusnunia Chalim, Bupati Lampung Timur perempuan yang termuda sepanjang sejarah berdirinya Lampung Timur menekankan tentang program kabupaten ramah anak

Chusnunia Chalim, Bupati Lampung Timur, menekankan tentang program kabupaten ramah anak untuk mengurangi stigma Lampung yang selama ini seolah-olah dekat dengan praktek-praktek kekerasan.

Jakarta - Hari kedua pelaksanaan Festival HAM (Hak Azasi Manusia) 2016 pada tanggal 1 Desember 2016 yang berlangsung di Bojonegoro, Jawa Timur berlangsung meriah dengan kehadiran peserta festival yang datang dari berbagai daerah di Indonesia serta beberapa tamu dari mancanegara. Tampil sebagai pengisi acara  Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim bersama dengan Kang Yoto, nama akrab Suyoto, tuan rumah, Bupati Bojonegoro, Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, Hasto Wardoyo, Bupati Kulon Progo, dan Walikota Bitung Max Lomban.

Lima kepala daerah ini menjadi pembicara pleno pertama hari kedua pelaksanaan Festival HAM 2016. Banyak hal menarik yang menjadi paparan para kepala daerah yang relatif masih  berusia muda. Hasto Wardoyo, seorang dokter, yang bercerita tentang Kulon Progo yang fokus untuk pengentasan kemiskin dengan mendorong warganya untuk bergotong-royong melakukan "bedah rumah" bagi warga miskin dan tidak mampu.

Chusnunia Chalim, Bupati Lampung Timur perempuan yang termuda sepanjang sejarah berdirinya Lampung Timur menekankan tentang program kabupaten ramah anak untuk mengurangi stigma Lampung yang selama ini seolah-olah dekat dengan praktek-praktek kekerasan.

Selain itu Chusnunia juga mencetuskan gerakan yang unik untuk mendorong kemandirian dan produktifitas warganya. Gerakan itu diberi nama "gerakan malu menganggur" yang memberi kesempatan bagi warga Lampung Timur yang mempunyai berbagai ketrampilan produktif untuk mengajarkan keahliannya kepada warga yang belum mempunyai ketrampilan.

"Saya belajar banyak dari Kang Yoto, saya ingin Lampung Timur bisa menjadi kawasan yang ramah HAM, dan itu sudah kami sahkan dengan perda, belajar dari Bojonegoro, " papar Chusnunia

Dedi Mulyadi, sosok yang cukup dikenal di media bahkan beberapa hari ini menjadi pembicaraan di media sosial, menjelaskan tentang kiprahnya di Purwakarta. "Kalau ada orang miskin sakit tidak bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak di rumah sakit, bagi saya itu melanggar HAM," kata Dedi Mulyadi. Bagi Dedi kesan banyak orang bahwa tentang sosoknya sebagai "bupati gila" justru memudahkan dia untuk melakukan banyak terobosan.

"Saya bisa menjadi bupati, salah satunya karena dorongan dari Kang Yoto di Bojonegoro, untuk menjadi ketua DPRD kemudian menjadi bupati," papar Dedy menceritakan kedekatan dia dengan tuan rumah.

Maximilian Jonas Lomban, Walikota Bitung, Sulawesi Utara, menceritakan kepada peserta festival tentang cara dua merawat keberagaman di daerahnya. "Di daerah kami, keberagaman warga sudah menjadi sejarah yang panjang, seperti banyak orang tahu di kawasan Sulawesi Utara sudah merupakan kawasan bertemunya banyak suku bangsa., sehingga kesadaran untuk merawat keberagaman tradisi yang harus dijaga sebaik-baiknya," kata Max.

Sebenarnya ada 8 (delapan) kepala daerah yang sedianya akan datang pada hari itu menurut panitia penyelenggara Festival HAM 2016 Mugiyanto dari INFID, " Sedianya mas Yoyok dari Batang seharusnya datang, juga Ki Enthus dari Tegal, dan Hidayat Sigit dari Palu sayangnya adanya perkembangan yang mendadak menjadikan mereka urung datang ke Bojonegoro." kata Mugiyanto.

Sesudah pemaparan para bupati di acara awal festival hari kedua, acara berlanjut dengan diskusi paralel dengan tema-tema yang lebih khusus, seperti pentingnya peranan kaum muda bagi pembentukan kota yang ramah HAM, peran kearifan lokal dan strategi budaya bagi kota ramah ham, pemerintah daerah dan pencegahan korupsi dan pemenuhan HAM. (Yul Amrozi)

TAGS : Kinerja Bupati Chusnunia Chalim




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :