Selasa, 07/04/2020 16:22 WIB

Pementasan

Drama Musikal Satu Langit Untuk Mencintai NKRI

Drama musikal yang bercerita tentang kisah cinta sepasang kekasih dan orangtua yang mengorbankan perasaan 

(foto: Yudi Syamhudi Suyuti/ Hatim Jurnas.com)

Jakarta - Keadaan Indonesia saat ini berkesan negeri ini sedang terpecah belah. Sehingga perlu kembali membangkitkan semangat pejuang kemerdekaan yang tidak mengenal perbedaan Suku, Agama, Ras, dan antargolongan saat mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Situasi itulah, akhirnya tercetus pagelaran seni, Drama Musikal Satu Langit yang menurut salah satu dewan pembina satu langit, Saor Siagian,  sebagai refleksi tentang keadaan saat ini dimana rasa nasionalisme generasi penerus bangsa yang mulai pudar.

"Saat ini, ada sekelompok orang dan aktor politik yang ingin memecah belah bangsa dengan memakai isu SARA untuk mencapai ambisi kekuasaan. NKRI terancam, dan Pancasila mau diganti dengan idiologi lain. Ini harus kita lawan," kata Saor dalam kata sambutannya sebelum pertunjukan dimulai di Balai Sarbini, Semangi, Jakarta pada akhir pekan kemarin.

Music Director Satu Lagit, Martogi Sitohang menambahkan,  dengan bahasa seni dan budaya yang universal diharapkan dapat menggugah hati untuk kembali mencintai NKRI sebagaimana yang diinginkan para pejuang dan pendiri bangsa.

"Pendekatan lewat pertunjukan seni sangat cocok untuk menyuarakan kembali semangat persatuan dan kesatuan NKRI karena bahasanya yang bersifat universal dapat diterima tanpa kekerasan," ujarnya.

Bertajuk, "Ketika Perjuangan Berbalut luka dan Cinta", drama musikal itu tidak hanya menampilkan  seni peran tetapi juga seni musik, lagu, tarian, puisi hingga pameran lukisan yang selaras dengan pesan yang akan disampaikan yakni kecintaan terhadap NKRI.

Turut berperan dalam drama musikal tersebut, artis Lisa Ariyanto, Micky "AFI", Henny Purwonegoro, Reysazilly Larasati, Diza Revengga, Salsa, Andra, Lady, Rama, Martogi Sitohang, Ronald Gustav, dan Sanggar Ananda Pimpinan Aditya Gumay (Lenong Bocah) hingga para pastor dari Keuskupan Katedral.

Penampilan para Romo dari Keuskupan Agung Jakarta yang ikut beracting dalam drama musikal tersebut sangat menarik perhatian penonton karena sangat menggelitik. Para pastur tersebut yakni; Romo Aloysius Susilo Wijoyo, Romo Rudy Hartono, Romo Suhardi Antara, Romo H Sridanto dan Romo Yustinus Ardianto.

Drama musikal yang ditulis dan disutradarai oleh Loly Hutapea ini bercerita tentang kisah cinta sepasang kekasih dan orangtua yang mengorbankan perasaan dan cinta, berurai air mata demi memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajahan Jepang.

Kisah seorang wanita tua yang disebut Opung Boru, Rauli (Lina Eren/Zilly Larasati), sosok wanita yang lembut dan sederhana. Dia sangat memelihara cintanya semakin hari semakin hidup walaupun dalam sebuah khayalan bahkan menciptakan peri halusinasinya.

Kisah drama musikal ini mengambil setting budaya Batak yang terdiri dari lima sub etnis (puak) yaitu: Toba, Simalungun, Karo, Pak-Pak dan Tapanuli Selatan yang memiliki keunikan masing-masing baik adat istiadat, bahasa, seni budaya dan Agama akan tetapi tetap merupakan satu rumpun yaitu Batak.

Anggota DPR RI dari fraksi PDI-P, Sukur Nababan mengatakan,  Indonesia hadir karena adanya budaya di seluruh nusantara. "Setiap suku bangsa di republik ini punya peran dalam perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah dengan mengorbankan jiwa dan raganya. Kita ingin negara ini dibangun dengan cinta kasih. Bukan dengan kebencian dan kecaman yang mencekam," kata Sukur.

Sementara itu, salah seorang panitia penyelenggara, Salmon Siagian mengatakan, meski berlatar belakang etnis Batak, kebanyakan penonton yang hadir di pertunjukan drama musikal yang digelar dua session tersebut non etnis Batak dan bahkan berbeda agama.

"Pertunjukan seni mampu menyatukan perbedaan. Bisa dinikmati dan diterima pesannya oleh siapa saja," tuturnya usai pertunjukan selesai.

TAGS : Aktifis PPDN Ketum Nasdem Surya Paloh




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :