https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Google Ogah Kembangkan Senjata Militer

Redaksi | Jum'at, 08/06/2018 11:10 WIB



Pichai menyatakan bahwa kecerdasan buatan harus aman, bermanfaat secara sosial dan menghindari menciptakan atau memperkuat bias yang tidak adil. Ilustrasi Google (foto: google)

Jakarta - Google mengungkapkan serangkaian pedoman untuk pengembangan kecerdasan buatannya di masa mendatang, termasuk tidak mengizinkan teknologi untuk digunakan dalam senjata militer.

CEO Sundar Pichai menyusun tujuh prinsip dan pedoman etika pada Kamis, menguraikan bagaimana Google berencana untuk mengelola aplikasi kecerdasan buatan baik dalam upaya komersial dan non-komersial.

"Ini bukan konsep teoritis; ini adalah standar konkret yang akan secara aktif mengatur penelitian dan pengembangan produk kami dan akan berdampak pada keputusan bisnis kami," tulis Pichai dalam posting blog.

Baca juga :
Trump Klaim Perdamaian dengan Iran Semakin Dekat

Pichai menyatakan bahwa kecerdasan buatan harus aman, bermanfaat secara sosial dan menghindari menciptakan atau memperkuat bias yang tidak adil.

Selain tujuh prinsip, perusahaan juga menguraikan serangkaian aplikasi untuk kecerdasan buatan yang tidak akan diikuti.

Baca juga :
Penembakkan Islamic Center San Diego, Lima Orang Tewas

Google mengatakan akan menghindari pengawasan dan teknologi pengumpulan informasi yang melanggar norma yang diterima secara internasional.

Ia juga berjanji untuk tidak mengejar teknologi yang menyebabkan atau mungkin menyebabkan kerusakan keseluruhan kecuali manfaatnya jauh lebih besar daripada risikonya.

Baca juga :
Fasilitasi Doa Bersama untuk Republik, Gedung Putih Tuai Kritik

"Google juga tidak akan mengejar "senjata atau teknologi lain yang tujuan utamanya atau implementasinya adalah untuk menyebabkan atau secara langsung memfasilitasi cedera. orang-orang," tambahnya.

Pada Sabtu, Google mengumumkan tidak akan memperbarui kontrak untuk menyediakan teknologi AI ke Departemen Pertahanan AS untuk mempercepat analisis rekaman drone dengan secara otomatis menafsirkan gambar video.

Sekitar 4.000 karyawan Google menandatangani petisi yang meminta perusahaan untuk membatalkan kontrak untuk program tersebut, yang dikenal sebagai Project Maven, dan menuntut perusahaan menerapkan kebijakan yang jelas yang menyatakan bahwa baik Google maupun kontraktornya tidak akan membangun teknologi perang.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Google Senjata Militer Amerika

Terpopuler

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777