https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Begini Penjelasan Kurang Tidur Bisa Bikin Mudah Marah

Muhammad Habib Saifullah | Selasa, 24/03/2026 13:30 WIB



Kurang tidur terbukti secara klinis dapat menurunkan ambang batas kesabaran dan memicu reaktivitas emosional. Ilustrasi mudah marah (Foto: Icons8 Team/Unsplash)

Jakarta, Jurnas.com - Gangguan suasana hati seperti perasaan lekas marah, kecemasan, hingga rendahnya toleransi terhadap stres sering kali dikaitkan dengan faktor eksternal.

Namun, tinjauan medis menunjukkan bahwa kondisi psikologis tersebut memiliki kaitan erat dengan durasi tidur seseorang.

Kurang tidur secara konsisten terbukti secara klinis dapat menurunkan ambang batas kesabaran dan memicu reaktivitas emosional yang berlebihan.

Baca juga :
Lestari Moerdijat: Dukung Peningkatan Deteksi Dini Kesehatan Mental Siswa

Dilansir dari berbagai sumber, secara biologis fenomena ini berpusat pada bagian otak yang disebut amygdala. Amygdala bertanggung jawab atas pemrosesan emosi, termasuk rasa takut dan marah.

Dalam kondisi tubuh yang cukup istirahat, amygdala terkendali dengan baik oleh prefrontal cortex, yakni bagian otak yang mengatur logika dan pengambilan keputusan.

Baca juga :
Tragedi Bundir Alarm Bangsa, Menko PM: Kesehatan Mental Agenda Strategis

Namun, saat seseorang kekurangan waktu tidur, koneksi antara prefrontal cortex dan amygdala mengalami pelemahan.

Akibatnya, amygdala menjadi hiperaktif dan bereaksi secara impulsif terhadap pemicu yang sebenarnya bersifat sepele.

Baca juga :
DPR Kawal Isu Reformasi Bea Cukai Hingga Kesehatan Mental Anak

Kondisi ini membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk menyaring emosi negatif sebelum meluapkannya.

Selain gangguan pada struktur otak, kurang tidur juga mengganggu keseimbangan neurotransmiter, seperti serotonin dan dopamin.

Serotonin berperan vital dalam menjaga stabilitas suasana hati. Penurunan kadar serotonin akibat terjaga terlalu lama menyebabkan sistem saraf berada dalam kondisi "siaga" yang tinggi, sehingga individu menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung.

Dampak dari kurang tidur ini juga memicu peningkatan hormon kortisol atau hormon stres.

Tingginya kadar kortisol dalam darah tidak hanya membuat tubuh terasa lelah secara fisik, tetapi juga menciptakan ketegangan mental yang konstan.

Dalam situasi ini, otak cenderung menginterpretasikan interaksi sosial yang netral sebagai sebuah ancaman atau gangguan, yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk kemarahan.

Para ahli kesehatan menekankan bahwa durasi tidur yang ideal bagi orang dewasa adalah 7 hingga 9 jam setiap malam.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kurang Tidur Mudah Emosi Kesehatan Mental

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777