Ilustrasi batuk rejan atau pertusis (Foto: Towfiqu Barbhuiya/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Beberapa waktu terakhir, kasus pertusis atau baju rejan kembali meningkat di Amerika Serikat. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis dan menyerang saluran pernapasan.
Meski terdengar seperti penyakit lama, pertusis dapat menyebar dengan cepat terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap.
Organisasi kesehatan termasuk CDC dan WHO menyebut pertusis sebagai penyakit yang sangat menular. Batuk parah yang menjadi gejalanya dapat berlangsung berminggu-minggu dan menyebabkan komplikasi serius, terutama pada bayi.
Penderitanya mengalami batuk hebat berulang yang dapat menyebabkan rasa sesak dan lelah.
Setelah batuk panjang, penderita biasanya menarik napas dengan suara melengking khas.
Meskipun tidak selalu tinggi, demam dapat menyertai gejala awal.
Batuk keras yang terus-menerus dapat memicu muntah.
Gejala ini sering muncul pada tahap awal dan mirip flu biasa.
Pada bayi, gejala bisa lebih berat hingga menyebabkan jeda napas.
Jika tidak ditangani, pertusis dapat menyebabkan pneumonia, kejang, dan dalam kasus ekstrem, kematian.
Vaksinasi (DTaP dan Tdap) adalah cara paling efektif mencegah pertusis. Bila seseorang mengalami batuk berkepanjangan, pemeriksaan medis sangat dianjurkan agar tidak terjadi penularan lebih luas.