https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Ini Dampak Stunting yang Harus Diwaspadai

Supianto | Senin, 08/11/2021 11:05 WIB



Gangguna pertumbuhan ini dapat lihat secara kasat mata dari aspek tinggi badan yang cenderung lebih pendek dibanding anak-anak seusianya. Ilustrasi ibu hamil

JAKARTA, Jurnas. com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), mengatakan, stunting tidak hanya memengaruhi tinggi badan, tapi juga menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak keseluruhan.

"Sebetulnya stunting ini bukan hanya masalah gangguan pertumbuhan tungkai kaki, stunting juga menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan keseluruhan akibat kekurangan gizi kronis," kata Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan, BKKBN, Rizal Damanik pada Seminar dan Forum Ilmiah Nasional Online, Senin (8/11).

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan pekembangan akibat kondisi gizi kronis. Gangguan pertumbuhan ini dapat lihat secara kasat mata dari aspek tinggi badan yang cenderung lebih pendek dibanding anak-anak seusianya.

Baca juga :
Tekan Angka Stunting di Desa, Mendes: Demi Hasilkan Indonesia Cerah

"Intinya, persoalan stunting ini bagaimana selama proses pertumbuhan embrio di dalam rahim seorang ibu selama 38 minggu akan mempengaruhi kehidupan kita dikemudian hari seumur hidup," ujar Rizal.

Rizal menjelaskan, stunting mulai terjadi saat pembuahan sel telur oleh sel sperma. Jika pada proses pembuahan ini terjadi kekurangan gizi kronis bukan tidak mungkin terjadi keguguran.

Baca juga :
Ilmuwan Ciptakan Sel Telur Manusia dari Kulit, Terobosan untuk Infertilitas

"Kekurangan gizi pada saat pembuahan juga akan mempengaruhi proses tumbuh kembang embrio sejak hari pertama sampai 38 minggu di dalam rahim. Pengaruhnya pada proses pertumbuhan mata, jantung, telinga, gigi, organ, dan reproduksi secara keselurhan," jelasnya.

Rizal mengatakan, masih banyak masyarakat yang mengira, dampak stunting hanya pada proporsi tinggi badan. Pahalal, kata dia, stunting juga mempengahuri keseluruhan termasuk sel saraf pusat dan sel otak dalam tubuh bayi.

Baca juga :
Legislator Apresiasi Keterlibatan Masyarakat Kalteng dalam Penanganan Stunting

"Kita bisa bayangkan, bayi yang kekurang gizi secara kronis jumlah selnya ini akan lebih rendah secara signifikan dibandingkan bayi normal. Jumlah sel yang rendah ini akan sangat membatasi daya ingat. Karena kalau stunting jumlah selnya hanya 500 ribu dibandingkan yang normal 5 miliar, maka 5 miliar ini mampu merekam 5 miliar informasi," ujarnya.

"Ini sangat mengkhawatirkan karena akan memberikan dampak mulai masalah kapasitas, kemampuan berpikir, hingga masalah produktivitas yang bertolak belakang dengan harapan Indonesia nanti di periode tahun 2045," sambungnya.

Saat ini, angkat stunting di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu 26,9 persen. Hanya ada empat provinsi yang memiliki stunting terendah yaitu Bali 14,42 persen, Kepulauan Riau 16,42 persen, Bangka Belitung 19,93 persen, dan DKI Jakarta 19,96 persen.

"Sedangankan provinsi lainnya angkanya masih cukup tinggi. Angka ini sangat memprihatinkan kalau kita ingat negara ini sebagai Jamrud Khatulistiwa atau Tongkat Kayu jadi tanaman," ujarnya.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Sel Telur Stunting Embrio Rizal Damanik BKKBN

Terpopuler

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777