Pengacara: Bos Chelsea Bukan Mesin Uang Presiden Putin

Rabu, 28/07/2021 19:00 WIB

London, Jurnas.com - Miliarder Rusia, Roman Abramovich, bukanlah mesin uang bagi Presiden Vladimir Putin. Chelsea juga dibeli bukan sebagai kendaraan untuk merusak Barat.

Demikian disampaikan oleh pengacara bos Chelsea, Hugh Tomlinson, dalam sidang pencemaran nama baik atas buku tentang Putin pada Rabu (28/7).

Dalam buku terbitan tahun 2020 itu, jurnalis Inggris Catherine Belton menghubungkan naiknya Putin ke tampuk kekuasaan dengan bertambahnya kekayaan sejumlah mantan mata-mata Uni Soviet.

Dikatakan, buku `Putin`s People: How the KGB Took Back Russia and then Took on the West`, yang diterbitkan oleh HarperCollins, jelas-jelas memfitnah. Abramovich menggugat HarperCollins dan Belton.

"Penggugat digambarkan dalam buku sebagai kasir Putin dan penjaga dana gelap Kremlin," kata Hugh Tomlinson dikutip dari Goal.

HarperCollins siap untuk "membela buku yang diakui dan inovatif ini dan hak untuk melaporkan hal-hal yang menjadi kepentingan publik yang cukup besar".

Belton adalah mantan koresponden Financial Times Moscow, dan sekarang menjadi koresponden khusus Reuters. Belton, yang menghadiri sidang, menolak berkomentar.

Tomlinson mengatakan buku Belton bergantung pada apa yang dia sebut sebagai sumber "tidak dapat diandalkan" seperti Sergei Pugachev, seorang pengusaha Rusia yang kemudian dianggap melanggar Kremlin.

Dia mengatakan buku itu menuduh bahwa Putin memerintahkan Abramovich untuk membeli klub sepak bola Chelsea sebagai "bagian dari skema untuk merusak Barat" dan untuk "membangun sekat pengaruh Rusia."

TERKINI
Panduan Urutan Ibadah Haji dari Awal hingga Akhir Kasus Kanker Kolorektal pada Anak Muda Meningkat, Ilmuwan Ungkap Pemicunya FA Luncurkan Penyelidikan Dugaan Kasus Mata-Mata Southampton KPK Kaji Aliran Suap SGD 213.600 ke Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama