Jum'at, 28/05/2021 19:27 WIB
Jakarta, Jurnas.com - Peneliti Indonesian Corruption Watch (ICW) Kurnia Ramadhana mengaku tak heran adanya aksi unjuk rasa mendukung asesmen tes wawasan kebangsaan (TWK) dan pemecatan 51 Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Hal itu menanggapi sejumlah demonstran yang secara tiba-tiba mendatangi Gedung KPK untuk menyuarakan dukungan terhadap sikap Ketua KPK Firli Bahuri yang memecat 51 pegawai tersebut.
"ICW tidak lagi kaget melihat adanya demonstran yang tiba-tiba menyuarakan dukungan terhadap Tes Wawasan Kebangsaan dan diikuti dengan desakan untuk memberhentikan 51 pegawai KPK," kata Peneliti ICW Kurnia Ramadhana dalam keterangannya, Jumat (28/5).
Kurnia mengatakan bahwa pola-pola seperti itu sudah berulang kali terjadi setiap kali ada pelemahan terhadap KPK.
KPK Tetapkan Bupati Tulungagung Gatot Sunu Wibowo Tersangka
KPK OTT Bupati Tulungagung Jatim Gutut Sunu Wibowo
WFH ASN Berlaku, Penumpang KRL Turun 27 Persen
"Misalnya, dulu, sempat ada demonstrasi mendukung calon Pimpinan KPK yang melanggar kode etik, mendorong Revisi UU KPK, mendesak pemenjaraan Novel Baswedan, dan kali ini mereka sepakat dengan pemberhentian 51 pegawai KPK," kata Kurnia.
Ia menilai bahwa pola demonstrasi tersebut kian melengkapi upaya pembungkaman kritik terhadap TWK Pegawai KPK.
"Mulai dari pengerahan buzzer di media sosial untuk menutup kritik publik, peretasan alat komunikasi aktivis, dan terakhir upaya mengganggu aksi penolakan TWK KPK," ucapnya.
Untuk diketahui, sejumlah massa dari berbagai kalangan berunjuk rasa di depan Gedung Merah Putih KPK. Aparat gabungan TNI dan Polri dikerahkan guna melakukan penjagaan ketat di sekitar Kantor KPK.
Massa mendesak ke-51 Pegawai KPK yang bakal diberhentikan lantaran tidak lolos TWK untuk segera diberhentikan.